Thursday, February 22, 2018

Ketika Ksatria Menangis



by Grace Suryani Halim

Gue yakin semua wanita yang mau menikah pasti mengidam-idamkan sosok suami yang keliatan cowok banget. Mereka pikir, suami mereka akan selalu tegar, beriman teguh, tabah menghadapi godaan, pantang menyerah, selalu berpendirian, dan selalu tau apa yang akan mereka lakukan. Tapi, ketika sosok suami mereka mulai menunjukkan kelemahan, banyak perempuan kaget. "Loh, kok begini? Mana figur pacar yang selalu tahu apa yang harus dia lakukan? Mana my hero yang dulu begitu gagah perkasa? Kok ternyata ngadepin tekanan di tempat kerja aja dah lemes?

Padahal, gals, suami kita itu manusia. Katanya, salah satu alasan perceraian yang paling sering adalah mereka menolak untuk menerima bahwa pasangan mereka manusia yang bisa lupa, bisa down, bisa capek, bisa kesel, bisa sedih, bisa nangis, bisa broken...

Selama 6 bulan pertama pernikahan, gue pernah liat Tepen kecewa, stres, bingung, pusing, panik, sedih, putus asa, broken... Pertamanya gue kaget, "Hah? Cowok kok kayak begini?" Tapi, lama-lama gue belajar bahwa ini salah satu peran gue sebagai istri: menghibur dan menguatkan. Bagian kita lah me-recharge suami kita sehingga besok dia bisa berjuang lagi di tempat kerjanya. 

Btw, jadi inget dengan sebuah tulisan yang dulu banget pernah gue tulis. Kalo gue ngga salah inget, tulisan ini diinspirasi sama beberapa cowok, salah satunya Tepen.

Ih, Cowok Kok Nangis??

*** 

"男人哭吧哭吧哭吧,不是罪。"
“Nan ren ku ba ku ba ku ba, bu shi zui...”
Hai Pria, menangislah, menangislah, menangislah. Itu bukan dosa.

***

Begitu kata Andy Lau, hehe. Well, gue biasanya ngga suka Andy Lau, tapi gue suka lagu itu karena gue setuju dengan Andy Lau. Cowok nangis, so what gitu loh?

Dulu gue sentimen sama cowok, gue sering ngerasa bahwa masyarakat hanya bersikap tidak adil dan kejam terhadap wanita. Misalnya aja, masyarakat bikin standar kecantikan yang tidak masuk akal, yang membuat banyak cewek begitu sengsara karena mesti diet mati-matian buat mendapatkan tubuh ‘ideal’ bak Angelina Jolie. Gue sering banget fokus ke diskriminasi terhadap kaum wanita, sampai gue tidak sadar bahwa sebenernya kaum pria juga menghadapi kejamnya dunia.

Sadar ngga kalo standar maskulinitas juga susah dicapai? Cowok macho diidentikkan dengan perut six packs, tampang sok cool, maniak bola, gonta-ganti spare part mobil, kantong tebel, mobil keren, gonta-ganti pacar, nge-gym... Kenyataannya, berapa banyak sih cowok yang bisa begitu? Jujur guys, gue mengamati cowok-cowok di sekitar gue dan kesimpulan gue dengan sahabat gue adalah kebanyakan cowok perutnya ngga rata!

Guys, serius deh, standar ke-macho-an cowok menurut dunia, itu sama sekali ngga macho. 

Salah satu dari banyak pantangan yang haram dilakukan oleh para cowok ‘macho’ adalah meneteskan air mata alias menangis. Katanya cowok hukumnya haram untuk menangis. Cowok harus tegar, cuman cewek yang boleh menangis, karena menangis itu tanda kelemahan.

Nah, kalo emang menurut Tuhan cowok itu tidak perlu menangis, Tuhan ngga akan kasih kalian air mata. Serius. Para cowok tidak mengeluarkan ASI kan? Kenapa? Karena menurut Tuhan, cowok tidak akan pernah menyusui jadi cowok tidak butuh ASI. Buat Tuhan itu hal mudah untuk merancang tubuh cowok supaya tidak perlu mengeluarkan ASI. Hal yang sama mudahnya buat Tuhan untuk merancang mata cowok agar tidak mengeluarkan air mata. Tapi, Tuhan tetap memberikan air mata buat para cowok karena, buat Tuhan, tidak ada yang salah dengan seorang cowok yang menangis.

Gue pernah menyaksikan beberapa pria menangis di depan gue. Ada yang gue bikin nangis, beberapa karena alasan pribadi lainnya, beberapa karena dijamah Tuhan. Gue menghargai para cowok yang berani untuk menangis (dengan alasan yang jelas tentunya). 

Beberapa cowok yang pernah deket sama gue punya hati yang lembut. Dari luar mereka mungkin keliatan sombong, keras, cuek, tapi sebenernya mereka punya hati yang lembut. Kadang-kadang para cowok inilah yang cukup menderita karena mereka takut ditertawakan oleh dunia. Akibatnya, mereka menggunakan banyak cara untuk melindungi hati mereka, diri mereka. Hal itu yang membuat gue sedih. Kenapa kau harus menyembunyikan dirimu dan hatimu dengan topeng seperti itu? Supaya bisa ‘cocok’ dengan standart ke-macho-an dunia?

Tahukah kalian bahwa Tuhan Yesus yang adalah cowok tulen 1000%, cowok paling macho, cowok paling cowok yang hidup di dunia ini, adalah seorang yang berhati lembut? Taukah kalian bahwa ayat terpendek di dalam Alkitab di Yohanes 11:35 berbunyi “Jesus wept” (maka menangislah Yesus)? Ayat terpendek di Alkitab tidak berbicara tentang keperkasaan Allah, kehebatan Allah, tapi justru tentang sesuatu yang dianggap tabu oleh dunia. Jesus wept. Allah menangis. Sang Pria sejati, Allah pencipta seluruh semesta, seluruh galaksi, Allah yang menciptakan singa, harimau, macan, buaya, gajah, pencipta dari orang yang menciptakan Rambo, Superman, Batman, Hulk, Goggle-Five, Ksatria Baja Hitam, MENANGIS. Iya. Jesus wept.

Gue tidak menyuruh cowok-cowok menangis sebanyak-banyaknya supaya makin mirip dengan Yesus ya. KAGAKKK... Gue cuma rindu para Pria Sejati Allah belajar tentang manhood bukan dari prinsip dunia, tapi dari Yesus, Sang Pria Sejati. Kalo mau jadi Pria Sejati, cowok-cowok mesti belajar dari Alkitab, belajar dari Allah sendiri. Minta supaya Tuhan menggantikan konsep yang salah yang selama ini dengan pikiran yang baru dari Allah.

Dunia kita butuh banyak Pria Sejati. Pria yang belajar dari Sang Pencipta. Pria yang mencerminkan citra Allah, yang punya hati Bapa. Pria yang mengerti bahwa kekuatan yang sejati itu bukan cuma datang dari latihan berat di gym tapi dari lutut yang berdoa di hadapan Allah. Pria yang mengerti bahwa cinta yang sejati didapat bukan dari mengobral kata-kata manis tapi dari sebuah komitmen dan kerelaan untuk berkorban. Pria yang mengerti bahwa kepintaran yang sejati tidak didapat dari buku-buku maupun pengalaman hidup tapi semata-mata hikmat dan anugerah dari Allah. Pria yang mengerti bahwa keberhasilan dalam hidup tidak ditentukan dari seberapa banyak keringat yang diteteskan, seberapa keras dia berusaha, tapi keberhasilan itu didapat semata-mata berkat Tuhan. Pria sejati bukan pria yang bisa hidup independent, tapi justru pria yang berani ‘dependent’ kepada Allah. Pria sejati bukan pria yang sanggup menyelesaikan semua masalah, tapi pria yang berani mengakui bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Allah.

Monday, February 19, 2018

Menjadikan Seorang Pria sebagai Pria



by Mega Rambang

“Eh... mau angkat galon dek? Gak usah, abang ajaa...” 
Aku ngeyel dan tetap angkat sebuah galon, yes... masih bisa ^^V 
“Loh dek? Bisa aja tuh kamu angkat galon”. Abangku keheranan melihatku dengan mudahnya (tsahhh... boong deng :p susah payah juga) mengangkat sebuah galon. 
Maklum, sejak menikah dia gak pernah melihatku mengangkat galon air (eh, ini galon air yang berisi ya, bukannya yang kosong, hehehe).

“Bisa lah bang, emang kapan aku bilang gak bisa?”, balik aku yang heran. 
“Bukannya dulu kamu bilang kalo ngisi galon air di rumah Kasongan, ada tukang air yang angkatin sampe dispenser?” 
“Ooo... itu, itu kan pas ada tukang jual air keliling bang, kalo ngga biasanya aku sendirian beli dan angkatnya”. 
“Kok, baru ini kamu angkat sendirian abang lihat dek?” 
“Iya lah, kan ada abang, hahahaha. Nah, kali ini karena banyak banget galon yang harus abang angkat (4 biji), makanya aku bantuin. “ 
“Oooo... kirain emang gak kuat” 
“Ngga lah bang, binimu ni aslinya Wonder Woman” ^^V

Memanfaatkan pria kah aku? Of course not laaa...

Aku belajar, membiarkan para pria di sekelilingku bertindak sebagaimana seharusnya seorang pria. Dan bagaimana aku melakukannya jika aku menunjukkan ke-wonderwoman-an ku (halaaaahhh... bahasa apa ini) setiap saat?

Hai wanita, seandainya dirimu melihat seorang pria yang gak gentleman, tidak mampu melindungi orang-orang di sekitarnya, kurang inisiatif, tidak bertindak sebagai pemimpin, tidak mampu mengatur segala sesuatu, tidak bertanggung jawab, tidak berani mengambil keputusan, atau yang omongannya tidak bisa dipegang, bagaimana perasaanmu? Kesel gak sih? 

Aku kesal.

Sampai suatu hari aku sadar, bisa jadi pria-pria ini menjadi demikian karena lingkungannya tidak memberikan kesempatan untuk menjadi seorang pria sejati (tsahhhh...)

Seorang wanita, bisa menjadi penolong para pria di sekitarnya menjadi pria sejati dengan memberikan dorongan yang dia bisa pada pria di sekitarnya. Coba pikirkan, bagaimana seorang pria menjadi suami yang mengatur kehidupan rumah tangganya jika istrnya tidak mau diatur, bagaimana dia memimpin jika istrinya menolak untuk tunduk pada pimpinannya, bagaimana ia akan berani mengambil keputusan jika orang-orang di sekelilingnya (ibunya, saudara perempuannya sering mempertanyakan keputusannya), bagaimana ia berinisiatif jika selalu didikte oleh orang di sekitarnya?

Biarkan seorang pria bertindak sebagai pria.

Berikan dia kesempatan bertumbuh menjadi seorang pria sejati melalui perkataan maupun sikap kita.

Memang gak mudah.

Aku melihat sendiri bagaimana seorang wanita bisa sangat tidak sabaran menghadapi pria yang ada di sekitarnya. Aku merasakan ketidaksabaran yang sama. Sebagai tipe wanita yang mandiri, belajar mempercayai seorang pria bukan hal yang mudah, banyak kesabaran diperlukan, serius. Dalam keseharian pekerjaan saja, aku melihat banyak pria yang tidak bisa diandalkan dalam pekerjaannya, yang lambat, suka menunda-nunda, haisss... sangat tergoda untuk mengambil alih pekerjaan mereka, kupikir, daripada lama mending aku saja yang mengerjakan. Dulu aku berpikir demikian, tapi itu tidak mendidik mereka. Mereka tidak akan bertumbuh. Bagaimana mereka akan belajar arti tanggung jawab jika kita mengambil apa yang menjadi tanggung jawab mereka?

Dalam hubungan pun, beberapa kali aku menerima curhatan beberapa kawan wanita yang frustasi karena mereka yang harus berinisiatif dalam hubungan percintaannya. Mereka menelpon duluan, SMS duluan, menyatakan perasaannya duluan. Wah... sayang sekali, akan banyak kekecewaan saat ini terjadi, serius. Taruhlah sang pria memang menyukainya, tapi nantinya wanita tersebut akan merasa insecure dalam hubungannya karena merasa sang pria tidak berjuang untuk mendapatkannya. Mengapa? Karena sejak awal sang wanita tidak membiarkan prianya bertindak sebagai pria sejati.

Hai wanita, bersikaplah sesuai dengan peranmu, jangan mengambil peran yang bukan bagianmu. Akan banyak kekecewaan bagimu. Dan yang terpenting, melakukan hal itu tidak akan menolong pria di sekitar kita bertumbuh menjadi pria yang diinginkan Allah.


Kasongan, 29 September 2015


-Mega Menulis-

Saturday, February 17, 2018

Pokoknya, Gue Benci Cowok!


by Grace Suryani Halim

Guys, sebenernye udah beberapa hari ini saya itu lagi pahit en sebel banget ama makhluk yang namanya ‘cowok’! Huss... huss... Sono gih jauh-jauh... Bikin gue bete! Hampir aje menyanyikan ‘lagu lama’, kenapa ya Tuhan mesti ciptain cowok, kenapa kok ngga manusia itu hermaprodit aje, ngga ada jenis kelamin cewek ataupun cowok, kan gampang!

Kenapa gue sebel? Abisss... cowok-cowok itu ngga jelas, ngga bisa dibaca, pokoknya menyebalkan! Bayangin aje, kita cewek mikir kalo dianya ada hati eh ternyata kagak! Padahal ya, kalau menurut ‘kamus’ kita, cowok yang melakukan hal-hal yang sweeeettt banget itu artinya suka, tapi ternyata dia ngga cuman lakukan itu buat kita, tapi juga buat si A, B, C, D dan lain-lain. Trus belon lagi model-model cowok yang tidak bertanggung jawab lainnya!!

Beberapa temen saya yang baru-baru ini putus, alasannya lebih tragis lagi: ada yang ditinggal kawin, ada yang cowoknya ngga mau ngajak kawin, ada yang... pokoknya banyak deh. Intinya hampir semua masalahnya karena si cowok. Nah, karena berbagai pengalaman ngga enak itu, akhirnya gue jadi mengambil satu kesimpulan: jangan mudah percaya ama yang namanya cowok. Di otak saya, biar kata baiknya kayak apa, cowok itu tetep brengsek.

Khayalan gue malah lebih ‘hebat’ lagi. Pokoknya, kalau habis ini ada cowok yang PDKT ke gue, biar kate dia telponin gue tiap hari, sms-in tiap hari, ngga bakal mempan! Mau kirim bunga juga bakal gue buang! Ge-er banget ya gue.. Emang sapa yang mau kirimin gue bunga ya? Hahaha... yah, namanya juga berkhayal.

Dan jadilaaahh... pagi itu gue bangun dengan hati sangat dongkol gara-gara cowok-cowok ngeselin itu. Pas saat teduh, gue masih rada dongkol, tambah dongkol malah. Dalam hati tiba-tiba gue mikir, duh kasian yah jodoh gue ntar, dia bakal susah banget deh meyakinkan gue, habis gue udah gondok setengah mati sama yang namanya cowok. Tapi salah dia juga sih, siapa suruh datangnya telat-telat, sapa suruh datang setelah ada sekian banyak cowok yang nyakitin gue! Bukan salah gue! Gue korban!

Eh, ayat hari itu... Markus 11:23-24, tapi mata gue justru nangkep ayat 25.

“Dan jika kamu berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu”
(Markus 11:25)

JEDEERRRR...

*bunyi kilat menyambar*

Yah gimana itu ayat kagak nancep, gue ngga cuman ada ‘barang sesuatu terhadap seseorang’, tapi gue gondok ama semua makhluk yang namanya cowok (of course, kecuali bokap, dede, dan bokap-bokapnya sahabat-sahabat gue).

Sehabis kilat menyambar, mulailah Tuhan bicara dalam hati gue... Sorry, pembicaraan rinci disensor, soalnya gue banyak menyebutkan nama-nama orang hehehe*, tapi intinya Tuhan negur gue akan beberapa hal.

Gue ngerasa sangat ditegur ketika Tuhan ingetin satu hal: semua cowok itu anak-anak Adam, yang jatuh ke dalam dosa, tapi cewek-cewek itu juga anak-anak Hawa, yang jatuh lebih dulu dalam dosa. Uupsss... So, sebenernya ngga ada tuh yang namanya prince perfectly charming yang ngga akan pernah nyakitin hati saya. Semua cowok berdosa dan karena dosa itu, mereka punya kecenderungan untuk menyakiti orang lain. Tapi, semua cewek juga berdosa. Karena itu, sebenernya kita semua itu sama, sama-sama berdosa, akibatnya kita seringkali sama-sama saling menyakiti. Yah, harus gue akui sih, banyak cewek ngga kalah brengseknya sama cowok.

Trus gue juga diingetin, jangan pernah berpikir bahwa ketika gue udah ketemu the right one (yang berdosa juga sama kayak gue), maka gue akan live happily ever after dan tidak akan pernah sakit lagi. Justru yang terjadi itu sebaliknya, the right one bakal punya potensi yang sangat besar untuk menyakiti dan mengecewakan gue, karena dia manusia! Kalau kita hidup dekeeettt banget ama seseorang, kita bakal ngalamin banyak masalah dan gesekan sama dia seperti “besi menajamkan besi.” Justru, gue tetep harus punya hati yang lebih lapang untuk mengampuni, punya stok kasih karunia dan belas kasihan untuk setiap kesalahan yang dia perbuat. Gue juga mesti belajar dari Babe, gimana caranya untuk mengampuni seseorang dengan benar-benar total dan tetap mengasihi sekalipun sudah disakiti. Oh noooo... hikss...

Tapi yang paling nancep itu ketika Babe tanya ke gue, “Kamu tau ngga kenapa Aku izinkan banyak cowok datang dan sepertinya menyakiti kamu, bikin kamu sakit hati dan kecewa?” Dari pertanyaan itu, tiba-tiba gue ‘lihat’ karakter yang sebenernya Tuhan mau bentuk dalam diri gue. Tuhan mau gue punya karakter seorang wanita yang hatinya lembut, mudah mengampuni, tidak mendendam, punya belas kasihan. Gue yang sudah menerima begitu banyak kasih karunia dari Tuhan, seharusnya bisa memberikan banyak kasih karunia dan belas kasihan untuk orang lain.

Tuhan ngga pernah berencana untuk menjadikan gue seorang yang pahit hati, yang punya dendam, sinis, penuh dengan kedongkolan dan caci maki. Tuhan justru mau membentuk gue jadi seseorang yang betul-betul indah di mata Dia. Untuk punya karakter seperti itu, gue ditempa habis-habisan. Karakter model begitu ngga akan didapat hanya dengan ongkang ongkang kaki, guys! Dasar guenya bego, kagak ngerti-ngerti, makanya kerjaannya ngomel mulu.

“Kamu mau ngga jadi seperti itu? Kamu mau ngga kerja sama dengan Aku?,” tanya Tuhan.

Ya, Tuhan, aku mau.

Gals, kita ngga akan pernah bisa jadi cewek dengan karakter yang bener-bener Godly, kalau hidup kita selalu aman damai tenteram dan mulusss... Darimana kita bisa belajar mengampuni kalau ngga ada orang yang pernah nyakitin kita? Gimana kita belajar untuk menerima kalau semua yang ada di idup kita sama persis dengan apa yang kita mau? Gimana kita bisa punya hati dan roh yang lemah lembut kalau kita menolak dilembutkan lewat masalah-masalah yang ada?? Gimana kita bisa mengerti tentang belas kasihan, kalau tidak ada orang yang butuh kita berikan belas kasihan? Gimana kita bisa tau kita ngga punya hati yang penuh dendam kalau ngga pernah ada orang yang bikin kita kecewa dan sakit hati? Gimana kita bisa belajar tunduk, kalau kita menuntut segala sesuatu berjalan sesuai dengan kemauan kita?

Cowok itu brengsek, tapi gue tahu gue ngga lebih baik dari mereka. Sikap gue sama Tuhan sama brengseknya, lebih brengsek malah. So, kalau Tuhan tidak pernah mendendam, ngga pernah cape sama gue, gue punya alasan apa untuk dendam sama cowok? Yang gue hadapi itu adalah anak-anak Adam yang berdosa, dan gue berdiri juga sebagai anak Hawa yang sama berdosanya.

Gue bener-bener terpana ketika ngeliat rencana Tuhan di balik kejadian-kejadian yang gue alami. Maksud yang mau Tuhan kerjakan di dalam diri gue, itu jauh lebih indah daripada apa yang pernah gue bayangkan. Tuhan lakukan itu bukan untuk gue aja, tapi juga untuk kalian semua. 

Dear God,
Kau bener-bener Tuhan. Ngga ada Tuhan yang seperti Engkau. Ya Tuhan, aku mau kerja sama dengan Engkau, karena aku tahu Aku ‘dibangun’ tidak hanya untuk jadi a man’s bride, but to be Your Holy Bride as well. Menjadi ‘Your Holy Bride’ itu tujuan utamaku, Tuhan.

Untuk Ksatria-ku,
Kau salah besar kalau kau berpikir kau akan menemukan sebuah hati yang mulus tanpa pernah tergores, sebaliknya kau akan menemukan sebuah hati yang sudah berulang kali diremukkan, dihancurkan... Tapi justru lewat semua goresan dan luka, hati itu menemukan nilainya yang sebenarnya.

Wednesday, February 14, 2018

Bangkit dari Kegagalan Cinta



by Grace Suryani Halim


Ini pertanyaan yang ditanyakan oleh beberapa orang:
Gimana sih caranya bangkit dari patah hati/ditolak/habis putus/cinta bertepuk sebelah tangan etc etc?

Well, gue tuh dulu sering banget yang namanya patah hati/gayung tak bersambut/cinta bertepuk sebelah tangan/bagai pungguk merindukan bulan *ciah... malah jadi pantun -.-* . Pokoknya segala macem kegagalan cinta dah. Dari yang diputusin, cowok yang kasih sinyal-sinyal tapi kagak pernah maju, cowok yang udeh maju tapi langsung ngibrit begitu ketemu face to face, cowok yang kasih sinyal-sinyal dan maju ketemu face to face trus telpon-SMS tapi akhirnya kagak pernah nembak. You name it lah, Guys. :p Sampe dulu gue mikir, rasanya lebih gede kemungkinan gue nemu perusahaan/univ/yayasan/organisasi yang mau biayain gue sekolah sampe S3 daripada ketemu cowok yang mau married sama gue. En gue tau banget kayak apa sakitnya ketika sebuah impian kandas... Rasanya gue waktu itu hidup segan mati tak mau, udeh kayak zombie, sampe yang paling paraaahh gue pernah kagak mau masuk surga >.< Muke gile~ Untung Tuhan mendengarkan tapi ngga anggap serius doa orang patah hati yang kehilangan akal budi ini!! 

"But loe kan akhirnya married!! Nah itu gimana tuh cara ngatasinnyaaa??" 

Nah itu alasan gue nulis ini, Guys. Hehe. 

1. Run to God! 
Nah, ini mah yang kudu pertama kali dilakukan. Tiap kali gue broken heart, kecewa, putus asa, sakit hati, marah, kesel, terluka, satu-satunya tempat teraman untuk curhat di dunia yah di kaki Yesus. Dijamin kagak bakal bocor, en Tuhan selalu sabar mendengarkan keluhan gue yang itu-itu lagi dan itu-itu lagi...

"Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidakakan Kau pandang hina, ya Allah."
(Mazmur 51:19)

Pas gue habis putus, dua bulan pertama, tiap hari jam 4 pagi gue udeh terbangun en kerjaan gue duduk trus nangis. Saat teduh tuh isinya nangis muluu... "Tuhan, hatiku sakit...", "Tuhan ini air mata, kok, ngalir sendiri ya?", "Tuhan, kangen... tapi bukan sama Kamu... maap loh Tuhan", "Tuhan, nanti kalo hari ini ketemu gimana?", "Tuhan mataku udeh bengkak tapi, kok, ini tetep nangis." Gitu muluu. Baca Alkitab tuh sambil berlinangan air mata. Baca apa kagak tau hahaha. Waktu itu yang gue inget cuman ayat ini, 

aku bodoh dan tidak mengerti, aku seperti binatang di hadapan-Mu. Namun aku tetap di dekat-Mu, Engkau memegang tangan kananku.
(Mazmur 73 : 22-23)

Gue bener-bener ngerasa ngga ngerti. Gue ngga tau gimana caranya untuk pulih, gue ngga tau gimana caranya buat bangkit lagi, gue bahkan ngga tau gimana caranya untuk bikin gue berhenti nangis. Tapi gue mau belajar kayak Pemazmur yang sekalipun kagak ngerti, sekalipun bodoh… tapi yang penting tetap di dekat Tuhan. Baru setelah beberapa waktu, pelan-pelan Tuhan mulai ngomong lewat saat teduh, lewat bacaan Alkitab. 

So guys, kalo baru ngalamin patah hati dkk, cepet-cepetlah datang kepada Tuhan. Tell Him everything that you feel. Jangan jaim. Jangan muna. Kalo sakit, bilang sakit... Kalo marah, bilang marah. Kita ngga bilang pun Tuhan tau, tapi Tuhan mau kita jujur sama Dia bukan buat Dia tapi buat kita sendiri! Kadang kita tuh kagak sadar sebenernya apa yang kita rasakan, en dengan terbuka seterbuka-terbukanya sama Tuhan, He'll show us the real condition of our heart. :)) En hubungan kita sama Tuhan juga jadi bisa dekeetttt :D 

2. Be Patient with urself!!
Ketika bergumul untuk bangkit, ada saatnya kita merasa kuat, utuh, berhenti menangis, en kita merasa, "Gue dah pulih!!" But, ada juga saatnya kita tiba-tiba ngerasa down lagi, mellow lagi. Ada saat di mana pagi hari sehabis SaTe kita merasa kuat di dalam Tuhan, eh pas lunch time tiba-tiba denger lagu kenangan trus mewek lagi... :p Atau setelah dua bulan, kita ikut banyak kegiatan en merasa sudah pulih, sudah move on, eh tiba-tiba kenangan lama menghujam en kita terpuruk lagi. 

En ketika saat-saat itu terjadi, siap-siaplah mendengar tipuan jelek dari si setan bau, "Waduh... elu mah kagak bakal pulih!! Baru denger lagu aja udeh mewek lagi. Udehlah... loe bakal selamanya ngga bisa lupain dia!" atau,

"Yaaahhh, baru tadi pagi pas denger khotbah merasa dipulihkan, sekarang lemes kayak gini. emank loe payah sih! anak Tuhan kok loyo. Tuhan mah malu punya anak kayak elu!",

atau "Eh elu liat tuh si Tini, baru sebulan putus udeh dapet pacar baru. Lah eluuu... udeh 3 bulan masih aja nangisin mantan loe itu. Ckckck... kagak bakal ada cowok yang mau sama loe...",

atau bahkan pake kata-kata rohani, "Kemaren si Ratna sekali didoain ama pendeta, langsung pulih! Lah elu, udeh doa sampe nungging-nungging Tuhan tetep kagak pulihin. Udeh sampe doa puasa, tetep aje loe kalo ngeliat dia nangis kagak jelas. Tuhan tuh kagak mau pulihin elu. Kalo emank Tuhan mau yee, udeh dari kapan-kapan deh Dia pulihin elu!! Buktinya sampe sekarang loe masih sakit kan?!?! Loe ngga bakal bisa move on deh."

Ennn masih ada segudang kalimat yang udeh sering banget gue denger dari si setan jelek itu! Pas awal-awal gue masih bego, gue pikir itu suara gue sendiri. So gue percayalah... But lama-lama Tuhan ajarin gue. Itu tuh kebohongan setan! Tuhan MAU pulihin gue, Tuhan BISA pulihin gue en Tuhan SEDANG pulihin gue. Cuman emank itu butuh waktu...

Guys, bayangin dah, elu abis dioperasi. Begitu loe selesai dioperasi emank langsung seger? KAGAK laahh. Pasti lemes banget, pusink, badan ngga enak. Beberapa hari setelah operasi pun bisa masih ada keluhan. Proses recovery tuh, biasanya 1-3 bulan; tergantung operasinya. Nah, selama proses itu, pasti ada saat loe ngerasa enak ada saat loe ngerasa ngga enak. Tapi ketika loe ngerasa ngga enak apakah itu artinya operasi itu gagal?? Ngga kan... itu namanya loe dalam proses pemulihan! 

Demikian juga dengan hati kita. Cuman camkan satu hal baek-baek, Guys, TIME CAN'T HEAL YOU!
Waktu tidak menyembuhkan. So, jangan coba-coba membodohi diri dengan bilang, "Ah, cuekin aja. Ntar sembuh sendiri!", KAGAK BAKAL SEMBUH! Kalo kita berlagak bego, berlagak ngga sakit, emang untuk beberapa saat kita bisa lupa en keliatannya itu ngga sakit lagi. Tapi LUKA itu tetep ada. En once ada sesuatu yang mengingatkan kalian akan luka itu, WUZZZZ... rasa sakit itu akan kembali. Bahkan mungkin berlipat kali...

Kabar baiknya, JESUS CAN and WANTS to heal you!! :D Tapiii... ada kalanya Tuhan juga perlu waktu dalam menyembuhkan :)) Trus apa bedanyaa?? Well, yang gue rasakan sih, Tuhan menyembuhkan gue itu ngga instan. Abis gue putus, gue perlu 2,5 TAHUN untuk bener-bener pulih. Ehh, tenang aja, guys. Ngga semua orang prosesnya selama gue kok. Gue waktu itu rada bebal en Tuhan emang siapin gue untuk pelayanan khusus: menghibur temen-temen yang sakit hati. Hahaha. Tapi asli loh, karena proses gue yang lamaaaa banget en terkesan lambaaaatttt banget, gue tuh, bisa sabar sama temen-temen gue yang bahkan udeh ngga sabar sama diri mereka sendiri hehehe. En bedanya itu Tuhan yang menyembuhkan—bukannya waktu—adalah... setelah proses itu selesai, kalo ada hal-hal yang berhubungan dengan mantan, gue ngga lagi merasa sakit or ada rasa nyeri di hati gue. I still can remember, but there's no pain :) No pain at all :)) 

So guys, SABARLAH ketika kalian dalam proses pemulihan. Kalo setelah bangkit eh mellow lagi, datang sama Tuhan. Inget ayat ini:

"Sebab tujuh kali orang benar jatuh namun ia bangkit kembali. "
(Amsal 24 : 16)

Orang benar, anak Tuhan bisa jatuh! Tapi yang membedakan, mau jatuh sampe tujuh kalipun, ia akan bangkit kembali! :D 

Kenapa? karena ada janji Tuhan di Mazmur:

"apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya."
(Mazmur 37 : 24)

So, ketika kalian lagi mellow-mellow en merasa jatuh lagi, lawan aja itu setan dengan dua ayat di atas! Katakan kencang-kencang, "Tujuh kali orang benar jatuh namun bangkit kembali!! Kalopun aku jatuh lagi, mellow lagi, nangis lagi, aku tidak akan sampai tergeletak sebab Tuhan menopang tanganku! Setan jelek jangan macem-macem! Aku ngga percaya dengan kebohonganmu. Aku pasti pulih dan akan bangkit kembali!" 

3. TEGAS!!
Nah selama masa recovery, kalian harus tegas. Tegas sama diri kalian sendiri. Tegas sama perasan kalian. Banyak cewek terlalu didominasi perasaan. Gals, kita wanita itu memang lebih perasa, kita memang lebih banyak bergerak dengan feeling; tapi itu sama sekali BUKAN ALASAN untuk membiarkan diri kita dikuasai oleh perasaan. Diri kita harus dikuasai oleh Roh kudus. Gimana caranya? Yaitu dengan membawa setiap pikiran dan perasaan dan menundukkannya di bawah kaki Yesus. Caranyaa?? Yah dengan berdoa dan bilang, "Tuhan aku merasa blablablabla... tolong aku mengatasi perasaan ini!" 

En salah satu cara tegas yang laen yaitu dengan berani memutuskan dan menghindari kontak-kontak yang ngga perlu. Waktu gue putus, gue punya cara pikir yang salah, "Karena gue anak Tuhan, gue harus tunjukkin bahwa gue tetep bisa berteman sesudah putus." En dengan hati yang masih porak poranda, emosi yang labil, gue berjuang keras untuk menunjukkin anak Tuhan itu 'beda'. Yang ada malah gue lebih babak belur >.< Sampe seorang sahabat gue di dalam Tuhan bilang, "Grace, waktu kamu putus, kamu butuh untuk sendiri. Kamu butuh waktu dari kata 'kita' kembali menjadi 'gue'. Karena itu, kamu butuh waktu untuk sendiri dan menata hatimu." 

WAAHH... itu kayak revelation yang dibukakan buat gue hahaha. Abis itu, gue mengumpulkan keberanian untuk ngumpulin semua barang 'kita' dan gue buang. Lalu gue minta tolong sahabat gue untuk masuk ke e-mail gue en HAPUS semua e-mail dari si doi. En yah, gue stop berdoa buat doi :p Sekalipun godaan untuk menjadi wanita-baik-rohani-berbudi-pekerti-luhur-yang-selalu-mendoakan- kebahagiaannya-dan-supaya-Tuhan-memberikan-jodoh-yang- terbaik-untuknya itu gede bangeett (!!), but gue mikir, I can't move on kalo gue tetep berdoa buat dia. So gue doain dia untuk terakhir kalinya en minta Tuhan jaga dia en gue bilang sama Tuhan, "Be... this is my last prayer for him ya. Please take care of him. Amen." 

4. Isi waktu dengan banyak kegiatan bermanfaat
ini saran paling klise jadi gue taroh paling bontot. Hahaha... Tapi saran ini berguna, kok :P So, daripada meratapi si doi di kamar mulu, mending keluaaarrr... shopping sama mami, baking sama si mbak, maen-maen sama si doggie, ikut pelayanan baru di gereja, baca buku-buku rohani, rajin komsel, beli CD-CD khotbah, etc.

Yah, begitulah, Guys :D Selamat bangkit dari kegagalan cinta bersama dengan Babe.

Monday, February 12, 2018

Wanita yang Terluka



by Alphaomega Pulcherima Rambang

Aku harus mulai artikel ini dengan pengakuan kalau aku adalah seorang wanita yang pernah terluka. Saat SMP, aku merasa kalau tidak ada seorangpun menginginkanku. Boro-boro punya pacar, punya sahabatpun rasanya ngga tuh di masa itu. Entah siapa yang membisikkan dan mencuci otakku dengan perasaan ngga berharga, yang jelas puncaknya perkataan seorang kawan di masa SMP membuatku merasa tertolak habis-habisan. Dia berkata, ”Mega tuh, kalo ngga pinter aja, mana ada yang mau berteman dengan dia”. Yang mengatakannya seorang kawan sekelas yang cantik dan bermulut tajam – jadi film-film ato sinetron tentang cewek cantik ngeselin yang suka nge-bully cewek kutu buku tuh ternyata ngga bohong loh :p

Well, sekarang sih berasa konyol sakit hati cuma gara-gara perkataan demikian, tapi yang aku rasakan saat itu, hatiku sakit! Aku berpikiran tidak ada seorangpun yang menginginkan cewek gemuk jelek ini (bahkan hanya sebagai teman). Kemudian aku merasa sebagai orang terjelek dan termalang di dunia dah, sedih T_T Untuk sesaat, aku bersedih karena ngga dilahirkan sebagai kutilang (kurus tinggi langsing) :p , kemudian aku marah sama temanku itu, dalam hati aja marahnya, hehehe... Tapi akhirnya aku bangkit dengan pemikiran, “Oke, aku punya otak pintar, jadi ngga boleh ada yang meremehkan aku karena fisikku, aku akan menonjol dengan otakku. Aku akan belajar serajin-rajinnya untuk menutup mulut cewek-cewek itu. Aku harus punya ranking yang bagus, karena apalagi yang bisa aku banggakan dalam hidupku, kalau ngga kepintaranku. Cantik sudah jelas ngga...”, demikian pikiranku.

Thursday, February 8, 2018

Menolong Sesuai Kebutuhannya


by Glory Ekasari

Suatu kali ketika masih pacaran, saya dan pacar bertengkar. Kami biasanya gak heboh kalau bertengkar, paling ngomel. Tapi kali itu saya marah besar sampai telinga saya panas. Tidak ada yang berteriak sih, tapi pembicaraan memanas dan perdebatan jadi makin sengit. Dua-duanya mau menang sendiri, sampai akhirnya saya tidak mau menjawab lagi. 

Ketika saya diam, Roh Kudus memberi saya pengertian. Pacar saya itu tipe orang yang gak tahan marahan lama-lama. Setiap kali kami bertengkar (yang mana sebenarnya jarang terjadi), dia ga bisa tidur, ga enak makan, ga fokus kerja. Kepikiran. Dan dia yang akan menghubungi saya duluan buat lanjut ngomel—sebenernya dia mau baikan, tapi dia tidak bisa mengomunikasikan keinginannya itu. Beda dengan dia, saya ini cuek. Ada masalah dengan orang lain pun saya bisa kerja seperti biasa, seolah-olah tidak ada apa-apa. Saya juga lebih suka kita jaga jarak dulu aja, sampai dua-duanya adem, baru kita bicarakan baik-baik. Bayangkan dua orang yang sangat berbeda seperti itu, pacaran. Di awal pacaran, tiap kali mau menyelesaikan konflik, malah timbul konflik baru. 

Setelah setahun pacaran, saya sudah paham. Pacar yang selalu chat duluan “good morning” (iya, dia sangat perhatian) kali ini tidak menyapa good morning sampai jam 10an, lalu baru chat untuk ngomel menyalahkan saya tentang masalah kemarin, sampai kami tambah ribut karena saya tidak terima disalahkan. Tapi setelah lewat semalam, saya sempat istirahat, pikiran saya lebih jernih, dan Tuhan menjamah hati saya, satu hal muncul dalam pikiran saya: 

“Sudahlah.” 

Saya memikirkan bagaimana dia pasti tidak bisa tidur semalaman. Mungkin dia juga belum makan. Saya jadi kasihan kepada pacar saya yang menyebalkan itu. Dan sekalipun saya tidak merasa salah dan menurut saya reaksinya berlebihan, saya putuskan, saya akan minta maaf tanpa menyalahkan dia. I will take the blame. 

Langsung setelah saya minta maaf, dia juga minta maaf. Dan ketika dia masih ngomel lagi, saya tetap minta maaf dan terima disalahkan. Dalam sekejap dia berubah jadi jinak seperti biasa, dan ngomelnya berubah jadi manja, bukan marah-marah lagi. Nafsu makannya kembali, dan saya ditinggal tidur siang. (Bah.) 

Saya belajar satu hal yang penting dalam hubungan kami: melihat kebutuhannya di balik tindakannya yang ofensif. Dia perlu dihargai sebagai laki-laki, tapi dia tidak bisa mengungkapkannya (atau mungkin tidak tahu bahwa dia merasa demikian), jadi dia marah-marah untuk menunjukkan supremasinya. Dia ingin berdamai, tapi tidak tahu cara mengomunikasikannya, jadi dia malah mengungkit hal-hal yang justru membuat kami bertengkar. Dengan pertolongan Roh Kudus, saya melihat bahwa di balik marah-marah itu ada ego yang terluka, dan di balik tingkahnya yang menyebalkan ada seseorang yang mengharapkan perhatian saya. Di hadapan saya ada dua pilihan: merendahkan diri untuk menjawab kebutuhannya, atau justru meninggikan diri dan menahan jawaban kebutuhannya itu. Saya bisa tunduk dan bersikap baik kepada dia, sesuai yang dia butuhkan, atau saya bisa makin melawan dia dan menyakiti egonya sebagai pembalasan. 

Wanita diciptakan Tuhan sebagai penolong bagi pria. Kadang yang perlu ditolong dari seorang pria adalah harga dirinya. Bukan tanpa alasan Tuhan memerintahkan isteri untuk tunduk pada suami: Tuhan, yang menciptakan kita, tahu bahwa pria perlu dihargai—setidaknya oleh keluarganya, dan terutama oleh isterinya. Kalau egonya terluka, kalau isterinya terus melawan, dia bukannya tertolong, malah terpuruk. Dia perlu merasa dianggap hebat oleh wanita yang mendampinginya, dan wanita itulah yang memegang kunci kebahagiaan suaminya itu. Isteri bisa membuat suaminya berbahagia karena merasa dihormati, atau justru membuat suaminya menderita karena merasa tidak dihargai. 

Ironis sekali bila wanita Kristen, yang semestinya mengenal firman Tuhan, malah menyakiti suaminya dengan cara tidak mau mengalah, sengaja melukai harga dirinya, atau membalas dendam dengan menahan pemenuhan kebutuhannya. Sebagai pengikut Kristus, tentu kita harus mengikuti Kristus; apakah Kristus akan dengan sengaja menyakiti orang yang membutuhkan Dia? Kristus memberikan nyawa-Nya demi musuh-musuh-Nya karena mereka membutuhkan pengorbanannya; sedangkan suami bukan musuh kita—apakah kita lebih dari Kristus sampai kita tidak mau berkorban bagi pria yang sudah berjanji mengikat dirinya dengan kita seumur hidup? Apakah di mata kita dia tidak berharga? Apakah ego kita sedemikian penting sehingga kita lebih memilih mengorbankan hubungan dengan dia? 

Para wanita perlu melihat pria dari sudut pandang ini. Saya pernah mendengar orang berkata bahwa di dalam hati setiap pria dewasa, ada seorang anak kecil. Mereka tidak seperti wanita yang lebih pandai mengkomunikasikan apa yang mereka rasakan dan harapkan; we women have to see through them. Pria perlu ditolong, dan pertolongan yang dia perlukan itu hanya bisa diberikan oleh wanita yang dia cintai: lewat ucapan terima kasih, lewat pujian, lewat pelayanan, lewat sentuhan dan seks (bagi suami-isteri), lewat penundukkan diri pada kepemimpinannya, dan ada kalanya, lewat pengorbanan ego wanita itu sendiri. 

Apa reward kita sebagai wanita, bila kita menjalankan peran kita sebagai penolong dan menghormati suami? Saya yakin tiap wanita yang takut akan Tuhan ingin melihat pasangannya berbahagia. Wanita diciptakan Tuhan sebagai pemberi; kita mendapatkan kepuasan ketika hal/orang yang kita rawat tumbuh dengan baik. Karena itu, kebahagiaan suami dan kemajuannya sebagai pemimpin adalah reward kita. Berbeda dengan prinsip dunia yang mendorong kita untuk mencari kebahagiaan kita sendiri, Tuhan menegaskan, “Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri, dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Filipi 2:3-4). Bila pasangan kita tidak bahagia, kita pun tidak akan bahagia. Sebaliknya, bila dia berbahagia, kita pun akan berbahagia.

Monday, February 5, 2018

Woman at the Well, Woman who Find Truth


by Felisia Devi


(Yohanes 4:1-42) - Percakapan dengan Perempuan Samaria

Kita tentu mengetahui bahwa Alkitab bukan hanya memuat cerita tentang bagaimana Allah berperkara dengan pria, tetapi juga wanita. Sebut saja beberapa diantaranya: Hawa sebagai wanita yang pertama kali jatuh dosa, Sara yang meragukan apa yang Tuhan mau beri, Hagar yang tetap dipelihara Allah, Rut dari bangsa Moab yang mendapat kasih karunia Allah, Ester menyelamatkan bangsa Yahudi di Babylonia dari pembantaian, Maria yang melahirkan Yesus, sampai Maria Magdalena yang mengalami pengampunan dan lainnya. Hidup mereka bukan hidup yang sempurna, atau yang tanpa beban ataupun masalah, tapi Allah bisa memakai mereka untuk menjadi berkat dan ada dalam penggenapan rencanaNya. Mereka bisa seperti itu menurut saya karena mereka ada dalam Tuhan dan menemukan iman dalam kebenaran untuk menjalaninya. Menemukan kebenaran merupakan sesuatu yang penting, karena hanya kebenaran yang membuat kita bisa hidup sesuai apa yang Tuhan mau.

Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan TUHAN dari pada korban
(Amsal 21:3)

Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan TUHAN daripada korban dan Tuhan punya cara yang berbeda-beda (personal) terhadap masing-masing kita untuk kita bisa menemukan kebenaran itu, karena Dia yang menciptakan kita tentu Dia yang paling mengetahui bagaimana membuat wanita bisa mengerti kebenaran dan mengalaminya. Mungkin salah satu cerita tentang wanita Samaria yang akan kita gali, akan menginsprasi. Karena saya pribadi menemukan banyak pembelajaran sehubungan dengan bagaimana kerinduan Allah untuk memulihkan kehidupan setiap kita lewat kebenaran.

Di suatu siang yang terik, Yesus yang sedang dalam perjalanan dari Yudea ke Galilea , memutuskan untuk beristirahat sejenak di daerah Samaria yang harus dilewatinya. Sambil menunggu murid-muridNya, Yesus memilih duduk dekat pinggir sumur karena mengalami kelelahan. Tidak lama kemudian datang seorang wanita yang hendak menimba air. 

Yesus (Y) : “Nyonya, bisakah saya meminta air untuk minum?” Yesus membuka percakapannya. 
Wanita Samaria (WS) : “Tuan yakin meminta minum kepada saya? Bukankah kaum Anda anti bersosialisasi dengan kaum saya?” 
(Y), "Ya yakin. Kalau saja kamu tahu kebenaran dan siapa yang berbicara kepadamu, pasti anda sendiri yang minta minum kepada saya dan saya akan memberi kepadamu air hidup”  
(WS) : “Air Hidup? Air jenis apa itu? Berasal dari dalam sini juga? Yang benar saja Tuan, timba saja anda tidak punya timba untuk mengambil air dalam sumur yang sangat dalam ini. Lagipula apa yang Tuan tau tentang sumur ini, Tuan lebih besar dari Yakub yang memiliki sumur ini sampai bisa menjamin bahwa saya bisa mendapatkan air itu?”

Siapakah wanita Samaria ini? 

Memang tidak secara jelas disebutkan siapa wanita ini. Yang pasti dia adalah seorang Samaria. Tapi dari beberapa ayat, bisa kita tafsrikan. Salah satunya yang pernah saya dengar dari khotbah, wanita Samaria ini mengambil air pada siang hari, disaat panas terik, mungkin untuk menghindari orang banyak yang biasa tidak mengambil pada panas terik. Dari apa yang Tuhan sebutkan mengenai sudah 5 kali perempuan ini menikah. Bisa saja wanita ini memang sudah menjadi buah bibir daerah setempat, maka dari situ ia memilih untuk mengambil air disaat tidak biasanya orang lain memgambil air. Tapi intinya wanita ini adalah wanita yang butuh dipulihkan, maka dari itu Yesus memilihnya untuk diajak berdialog.

Di awal percakapan kita bisa melihat bahwa Yesus tidak memusingkan budaya bangsa Yahudi yang tidak bergaul dengan orang Samaria, karena mungkin buat Yesus itu hanya menghalangi pekerjaan Allah yang harus Dia lakukan. Sama dengan ketika Yesus mau memulihkan hidup setiap kita, standard dunia yang kita ketahui tidak akan menghalangi pekerjaan Yesus yang mau Dia lakukan dalam hidup setiap kita.

Kita juga bisa melihat bahwa wanita Samaria ini awalnya masih belum mengerti sama apa yang Yesus maksud. Pemikirannya hanya sampai yang kelihatan, sedangkan Yesus bisa melihat lebih ‘dalam’ tentang apa yang wanita ini butuhkan. Tapi Yesus terus memberitahu wanita ini kebenaran-kebenaran. Saya melihatnya sama seperti hidup setiap kita yang kadang tidak bisa langsung mengerti apa maksud Tuhan lewat kebenaran yang kita ketahui atau dengar, tetapi Tuhan selalu punya cara untuk kita bisa mengerti kebenaran-kebenaranNya, jika kita mau berespon dan haus akan kebenaran-kebenaranNya. Sikap seperti ini yang bisa kita teladani dari wanita ini, walaupun pemikirannya masih belum mengerti dengan apa yang Yesus maksudkan, wanita ini mau berespon akan ajakan Yesus “Tuan saya mau air itu, supaya tidak haus lagi dan tidak perlu kembali ke tempat ini lagi untuk menimba”

Hal inilah yang diperlukan untuk bisa mengerti kebenaran dan mengalami pemulihan, butuh kehausan, ada effort untuk kita terus mengejar Tuhan dan kebenaranNya. Liat saja wanita Samaria ini terus menerus bertanya, berespon dari apa yang Yesus katakan.

Dan sekalipun wanita Samaria ini belum bisa mengerti apa maksud Yesus, Yesus tetap menghargai respon dari wanita itu. Begitu juga sikap Tuhan terhadap kita, Tuhan bukan melihat seberapa kita mengetahui banyak hal tentang kebenaran, tetapi Tuhan melihat hati kita yang mau terus mengejarNya . Yesus mengerti apa yang kita alami atau butuhkan,bahkan sebelum kita mengerti. 

Sampai akhirnya wanita ini mengerti apa maksud Yesus, ketika membicarakan tentang hidupnya.

"Sekarang saya tahu Tuan seorang nabi," kata wanita itu.
(Yoh 4:19)

Dari hal ini, kita bisa mengerti bahwa hidup kita dihadapan Tuhan itu terbuka . Tidak ada yang tersembunyi. Yesus mengajak wanita ini berbincang-bincang bukan karena Yesus tidak mengetahui dan mau kepo, tapi untuk membawa wanita ini bisa melihat dan menyadari keadaan dirinya. Kadang saya juga suka berpendapat bahwa proses yang Tuhan kasih itu bertele-tele, tidak bisa dimengerti. Tapi dari cerita ini saya jadi mengerti bahwa saya harus setia dan menikmati setiap proses yang Tuhan ijinkan, karena lewat proses itulah Tuhan membawa saya semakin bisa mengenali diri kita (terutama yang harus diubah) dan memulihkan saya sampai sembuh ketika saya mau terbuka.

Lalu, seperti wanita ini yang berbicara jujur bahwa memang pria yang hidup bersama dirinya sekarang memang bukan suaminya. Tuhan mau kerendahan hati dan kejujuran hati kita dihadapanNya. Karena setelah wanita itu terbuka (jujur), akhirnya wanita ini mengerti suatu kebenaran bahwa yang berbicara kepadaNya adalah Mesias yang dinantikan. 

Apakah kalian menyadari bahwa bukan suatu kebetulan Yesus melewati daerah Samaria, berjumpa dan berbincang-bincang dengan perempuan Samaria ini? Karena dibalik itu semua itu ada kedaulatan Allah. Di dunia ini Yesus berfokus melakukan pekerjaan Allah (Yohanes 14:10), jadi apa yang Yesus lakukan atas apa yang di dapat dari BapaNya. Sekalipun Yesus sedang letih dan memang butuh air minum untuk minum, tapi Yesus lebih mementingkan wanita ini untuk mengalami perjumpaan dengan kebenaran yang akan memerdekakann hidupnya.

Yesus juga mengangkat topik tentang air, bukan saja karena Dia sedang haus, tapi karena Yesus mengetahui apa yang menjadi persoalan wanita ini. HAUS. Haus akan apa? Haus akan kasih yang wanita ini berusaha cari diluar Tuhan, yaitu pada pria. Sampai pernah hidup dengan enam lelaki sampai hari ini pun tidak bisa memuaskan hidupnya. Lewat percakapan itu, maksud Tuhan Yesus adalah mau memberitahukan kebenaran bahwa apa yang wanita itu lakukan bukanlah jawaban dari apa yang menjadi pergumulan hidup selama ini (kehausan/kekosongan), tapi hanya melalui Kristuslah dia akan menerima apa yang dibutuhkan.

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
(Matius 5:6)

Yesus menyampaikan kebenaran pada wanita Samaria ini lewat apa yang sedang dia lakukan sehari-hari. Dari ini kita bisa belajar bawah salah satu cara Allah untuk menuntun dan mengajar kita, yaitu lewat kehidupan sehari-hari yang kita alami/temui/lakukan, bukan yang ngawang dan tidak harus nge-roh. So, yuk belajar peka sama apa yang Tuhan mau ajar lewat apapun yang kita lakukan atau alami.

Cerita wanita Samaria ini, bukan hanya sampai dia dapat sesuatu yang berharga, yaitu mengerti kebenaran. Selanjutannya diceritakan bahwa setelah wanita ini mengalami perjumpaan dengan Yesus dan kebenaranNya, wanita Samaria ini tidak bisa menahan untuk mau menceritakan pengalamannya. Bawaannya mau menceritakan(bersaksi) ke banyak orang tentang apa yang di alami, sampai apa yang awalnya sedang di lakukan (menimba) terlupakan.

Akibatnya banyak orang yang bukan hanya percaya, tapi membuat orang lain tertarik juga untuk mengenal dan mengalami Yesus.

Banyak orang Samaria penduduk kota itu percaya kepada Yesus, karena wanita itu berkata, "Ia mengatakan kepada saya segala sesuatu yang pernah saya lakukan." 
(Yoh 4:39)

Mereka berkata kepada wanita itu, "Kami percaya sekarang, bukan lagi karena apa yang engkau katakan kepada kami, tetapi karena kami sendiri sudah mendengar Dia, dan tahu bahwa Ia memang Penyelamat dunia."
(Yoh 4:42)

Apakah teman-teman juga rindu untuk bisa membawa banyak orang untuk percaya dan mengalami Yesus, lewat kesaksian hidup yang kita alami? Praktekkan dan alami kebenaran Firman Tuhan itu sendiri.