Friday, July 21, 2017

Masa Depan Yang Penuh Harapan (Part 2)


by Grace Suryani

Post ini adalah sambungan dari Part 1 yang bisa dibaca di SINI

Terkadang persepsi kita tentang “masa depan yang penuh harapan” itu keliru. Ayat yang paling sering dikutip itu ayat ini, 

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." 
—Yeremia 29:10

Tapi mari kita liat untuk siapa dan dalam kondisi apa ayat ini ditulis.

Beginilah bunyi surat yang dikirim oleh nabi Yeremia dari Yerusalem kepada tua-tua di antara orang buangan, kepada imam-imam, kepada nabi-nabi dan kepada seluruh rakyat yang telah diangkut ke dalam pembuangan oleh Nebukadnezar dari Yerusalem ke Babel. 
—Yeremia 29:1

Surat ini ditulis untuk orang-orang buangan di Babel. Surat ini ditujukan oleh bangsa Israel yang BARU SAJA dibuang ke Babel. Tuhan justru menyuruh mereka tinggal mengusahakan kesejahteraan bangsa asing tempat mereka tinggal, menikah dan berkembang biak, karena mereka bakal lama di sana.

Penafsiran gue maksud dari ayat 10 itu adalah demikian.

Sekalipun elu tinggal di Babel, sekalipun elu orang buangan, sekalipun loe dipandang rendah sama orang lain, sekalipun ini BUKAN MIMPI LOE (siapa sih yang pernah mimpi mo jadi orang buangan??), loe yakin dan percaya dah sama TUHAN. Ini rencana tuh rencana yang indah buat elu. Lebih indah dari rencana loe sendiri. Kalo loe setia di tempat dimana Tuhan membuang elu, elu taat sama Firman-Nya, bikin rumah, bikin kebun, bikin anak (yang banyak), berdoa dan bekerja dengan sungguh-sungguh sekalipun loe di tempat yang bukan mimpi loe, tetap ada harapan di sono.

Kalo ga yakin sama penafsiran gue, silahkan baca Yeremia 29 sendiri guys. :P Itu lebih bagus, daripada elu orang telan bulet-bulet kata-kata gue. Hehe.

So face it guys... Sometimes, God brings us not to the highest, but to the lowest place instead.

Kita maunya cuman Tuhan bawa kita dari kemuliaan ke kemuliaan lainnya. Tapi sadarkah kita kalo di lowest place, di tempat yang paling boring sedunia, Tuhan justru bisa mengasah karakter kita sebaik-baiknya; dan itu artinya Tuhan membawa kita kepada kemuliaan baru loh.

Firman Tuhan itu selalu benar, yang kadang salah itu PERSEPSI KITA. Pandangan dan definisi kita tentang masa depan yang penuh harapan dan kemuliaan, itu yang kadang salah. Kita mengartikannya terlalu sempit. Kita mengartikannya dgn kacamata dunia. Masa depan penuh harapan = sukses = banyak duit = mimpi-mimpi tercapai. Ketika kita berdoa, “Tuhan, tolong supaya aku bisa mengerti firman-Mu,” sebenarnya kita berdoa, “Tuhan, tolong supaya aku bisa punya PERSEPSI, PANDANGAN, dan DEFINISI yang sama dengan-Mu. Supaya aku melihat dengan kacamata-Mu, bukan kacamata dunia.”

Masa depan penuh harapan versi Tuhan = karakter terbentuk = makin serupa Kristus = jadi surat yang terbuka bagi dunia = jadi wangi-wangian yang harum di hadapan Tuhan. 

Tuhan tuh ga terlalu peduli kita lunch sama siapa. Entah itu sama dubes dari USA, atau sama bayi yang pinter taichi (kalo disuapin tangannya gerak kanan kiri). Yang paling penting kita NGAPAIN pas lunch sama org itu. Do we influence them, or do they influence us? 

Let’s face it guys, sometimes it’s not about us. Sebagian besar orang yang menerima surat dari Yeremia, tidak pernah kembali ke Israel. Tidak pernah kembali ke tanah nenek moyang. Tidak pernah melihat bait Allah dibangun di Yerusalem. Tidak pernah melihat Tuhan memulihkan kehormatan bangsa Israel. Sebagian besar dari mereka, mati sebagai orang buangan dan tidak pernah melihat mimpi mereka (kembali ke tanah Israel) terwujud. Mereka mati di tanah asing sebagai orang buangan. Bagi dunia, orang buangan itu hina. Tapi bagi Tuhan, mereka yang mati di tanah Babel itu memenuhi rencana-Nya. Just face it... Sometimes, supaya rencana Tuhan harus digenapi, kita harus rela tidak pernah melihat mimpi kita terwujud.

Tapi ini janji Tuhan: sekalipun hidup yang kamu hidupi sekarang itu bukan mimpimu, sekalipun ini bukan hidup yang kamu mau kalo itu dalam rencana Tuhan, maka kamu ada dalam masa depan yang penuh harapan. 

Jangan berpikir bahwa hidupmu baru akan dimulai NANTI setelah kamu masuk ke 'masa depan yang penuh harapan'. Karena masa depan yang penuh harapan itu adalah HARI INI. Ketika kita bekerja dan taat melakukan bagian kita HARI INI di tempat dimana Tuhan tempatkan kita. Bukan nanti.

Guys, punya impian itu bagus dan harus. Tapi impian semanis apapun itu selalu kalah manis dengan kenyataan yang Tuhan berikan.

Pertanyaannya mungkin, darimana gue tau ini rencana Tuhan atau bukan? There’s no easy answer for that question. :p Satu-satunya cara buat menjawab adalah, bertanya sama Tuhan, punya hubungan pribadi sama Tuhan dan baca Alkitab. I can’t answer the question about your life. You must ask the Author of your life.

:)

Wednesday, July 19, 2017

Masa Depan Yang Penuh Harapan (Part 1)


by Grace Suryani

"Percaya deh, Tuhan PASTI memberi masa depan yang penuh harapan!!" 
Itu firman Tuhan yang sering banget digembar-gemborkan, khususnya kepada generasi muda.

God wants you to do SOMETHING BIG FOR HIS KINGDOM!!!
God will use YOUR LIFE TO CHANGE THE WORLD!! 

dan semua kalimat keren lainnya. 

Well, itu ga salah. tapi kadang PERSEPSI kita ttg 'something big', 'change the world', masa depan penuh harapan yang SALAH. Ketika kita mendengar kalimat itu, kadang yang terpikir langsung, "WOW, gue mungkin akan dapet kerjaan di MNC yang bakal bikin gue bisa traveling around the world!!" Atau "WOW, mungkin Tuhan akan kasih gue beasiswa ke luar negeri!" Atau, “WOW, gue yakin gue akan bisa jadi orang paling hebat di bidang gue. Orang-orang akan datang berguru kepada gue.” Atau, “WOW, buku yang gue tulis akan jadi buku best seller mengalahkan Harry Potter!” Or all other glorious dreams... 

Mungkin BANGET. Bisakah Tuhan lakukan itu buat kita? BISA. I have no doubt. Alkitab penuh dengan orang-orang yang melakukan hal-hal besar, melakukan mujizat, membuat orang-orang terkagum-kagum. Tapi Alkitab juga penuh dengan orang-orang biasa, yang melakukan hal-hal biasa untuk Tuhan yang luar biasa. 

Ayat yang paling sering dikutip itu ayat ini, 

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." 
—Yeremia 29:10

Tapi mari kita liat untuk siapa dan dalam kondisi apa ayat ini ditulis.

Beginilah bunyi surat yang dikirim oleh nabi Yeremia dari Yerusalem kepada tua-tua di antara orang buangan, kepada imam-imam, kepada nabi-nabi dan kepada seluruh rakyat yang telah diangkut ke dalam pembuangan oleh Nebukadnezar dari Yerusalem ke Babel. 
—Yeremia 29:1

Surat ini ditulis untuk orang-orang buangan di Babel. Surat ini ditujukan oleh bangsa Israel yang BARU SAJA dibuang ke Babel.

Lalu apa perintah Tuhan buat orang-orang buangan itu? Tabahkan hatimu, Aku akan membawa kamu keluar secepatnya?? Tabahkan hatimu, kamu akan melihat tangan Tuhan membalas dendam dan menghukum orang-orang kafir itu? Tabahkan hatimu, kamu akan melihat mujizat Tuhan yang luar biasa? Kamu akan kembali segera ke tanah Israel. Kamu akan menjadi kepala dan bukan ekor!!

Ini perintah Tuhan buat mereka,

“Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya; ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang! Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. Sungguh, beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Janganlah kamu diperdayakan oleh nabi-nabimu yang ada di tengah-tengahmu dan oleh juru-juru tenungmu, dan janganlah kamu dengarkan mimpi-mimpi yang mereka mimpikan! Sebab mereka bernubuat palsu kepadamu demi nama-Ku. Aku tidak mengutus mereka, demikianlah firman TUHAN. 
—Yeremia 29:5-9

Dengan kata lainnya Tuhan tuh bilang begini, “Nak… Kamu itu bakal LUAMAAA banget di Babel. 70 tahun. Aku ga akan bawa keluar sebelum 70 tahun itu. So, daripada dengerin ocehan atau nubuat-nubuat palsu dari orang-orang yang bilang bahwa Tuhan akan menolongmu sebentar lagi, bahwa kamu ga akan lama di Babel, bahwa kamu akan kembali melihat kemuliaan Yerusalem, bahwa Israel akan berjaya lagiii, mendingan loe bangun rumah dah. Bikin kebun buat anak cucu loe, dan kawin lalu bikin anak sebanyak-banyaknya! Kerja yang bener, dan berdoalah buat entu orang-orang kapir. Oke? Jangan loe dengerin dah itu org-org yg pada ngomong yg bagus-bagus ttg loe ga bakal lama di Babel, loe akan liat mujizat, Tuhan akan membangun kembali Yerusalem. Iye, bakal Gue bangun tapi ntar ye, pokoknya loe 70 taon dulu di sini. Oke?” 

Barulah ayat 9 disambung dengan ayat yang suka dikutip karena bunyinya bagus banget.

To be continued.

Monday, July 17, 2017

Mengapa Tuhan Mengizinkan Penderitaan


by Grace Suryani

Kenapa Tuhan mengizinkan anak-anak-Nya mengalami penderitaan? Katanya anak Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, tapi kok menderita? Kenapa Tuhan ga kasih garansi bahwa semua orang yang percaya pada Tuhan Yesus tidak akan menderita lagi? Kan enak... 


The last 6 months are one of the hardest time in my life. Ever. Pergumulan datang silih berganti. I've seen death face to face few times. Dihimpit kanan kiri. Belum selesai, masalah baru sudah menanti. Dari gue yang tadinya selalu yakin dan tiap berdoa gue sering ngomong, "I know You, Lord. I know You are a good God," menjadi sampai di titik, "I don't know You anymore..." Semua masalah ini membuat gue jadi orang yang berbeda. Gue menghindari ketemu orang-orang, lebih pengen sendiri, ga terlalu pengen cerita-cerita (oh my, gue sendiri bingung kok gue ga kayak gue lagi). Yang biasanya ember, sekarang jadi keran. Rapet... Netes juga kagak. 

Di sisi lain, something amazing terjadi. Gue jadi peka—sangat peka dengan orang-orang lain yang sedang berduka. Di waktu yang hampir bersamaan, ada seorang rekan yang kehilangan anak dan papanya hanya dalam waktu 2 minggu. Ketika gue hubungin ybs dan bilang, "I'm so sorry for your loss. I'm praying for you," itu bukan kata-kata basa basi. I did pray like crazy for him. I can feel his pain. His loss. His suffering. 

Peristiwa itu membuat gue teringat kejadian sewaktu gue keguguran ampir 3 tahun lalu. Sebelum kejadian, ketika gue pergi check ke dokter kandungan, ada sepasang suami istri yang keluar dari ruang dokter sambil menangis. Respons pertama gue, "Waduh Tuhan, jangan sampeee gue kayak begituu..." 2-3 minggu kemudian, gue keluar flek-flek. Deg. I prayed like crazy, several sleepless nights. Ketika lagi nunggu dokter, ada seorang ibu lain yang begitu keluar lgsng didorong pake kursi roda dan dibawa ke ruang perawatan, she cried. Respons pertama gue, "Lord, please help her... please take care of her baby. I hope she's okay. Please help her. Please..." 

3 minggu sebelumnya, gue ga peduli sama sekali dengan pasangan suami istri yg pertama. Gue cuman berdoa, jangaaann sampeee gue harus begitu. Did I care about them? Nope. I only cared about myself. Yang penting bayi gue ga kenapa-kenapa. Bayi orang laen, nasib dia lah. 3 minggu kemudian, gue bahkan ga sempet mikir semoga bayi gue ga kenapa-kenapa (waktu itu belon tau kalo keguguran, baru ada flek-flek). Gue bener-bener berharap she's okay dan bayinya juga baik-baik saja. Apa yang membuat gue yang tadinya yang punya mental, gue ga peduli bayi laen gimana yang penting bayi gue ga kenapa-kenapa, menjadi otomatis (sekali lagi OTOMATIS) mikirin bayi orang lain juga? Penderitaan. Suffering. 
Penderitaan itu mengubah engkau. Penderitaan menghancurkan ego. Meremukkan kesombongan. Menghilangkan self-righteous. Penderitaan itu membuat lubang di hatimu, sehingga ada tempat untuk orang lain di sana... Penderitaan membuat kita sadar, betapa rapuhnya hidup ini. Ya, jika boleh merumuskan apa itu penderitaan, buat gue penderitaan itu membuat lubang besar di hatimu, sehingga ada tempat untuk orang-orang lain di sana dan ada lebih banyak tempat untuk Yesus. Hatimu tak lagi penuh dengan SAYA, SAYA, dan SAYA.
Mungkin itu sebabnya Tuhan mengizinkan anak-anak-Nya tetap mengalami penderitaan di dunia ini. Supaya mereka tetap in-touch with reality. Mereka bisa berempati dengan dunia yang terluka. Mereka bisa menangis dengan jiwa-jiwa yang menderita. Mereka bisa mengerti bahasa tetesan air mata. Orang-orang yang pernah mengalami luka yang sama, bisa berkomunikasi dengan kedalaman yang hanya bisa dimengerti oleh yang pernah terluka. 

Bayangkan jika semua anak Tuhan kebal terhadap penderitaan, bagaimana kita bisa mengerti raungan orang-orang yang terpinggirkan di ujung sana? Bagaimana kita bisa menjadi saksi Kristus yang efektif juga kita tidak benar-benar bisa peduli? Bagaimana kita bisa peduli jika kita tidak pernah mengalami? Bagaimana kita bisa mencerminkan Allah yang peduli kepada dunia, jika kita hidup di dalam rumah kaca yang steril terhadap penderitaan? Itu bukan cerminan Yesus. Yesus justru keluar dari 'rumah kaca' untuk masuk ke dalam penderitaan! Karena itu mensetrilkan anak-anak-Nya dari penderitaan justru mengingkari teladan Yesus Kristus, Tuhan kita. 

Beberapa teman-teman baik gue yang sangat gue kagumi karena mereka orang-orang yang sangat considerate, sangat bisa menguatkan org, pandai memilih kata-kata yang membangun, tulus, orang-orang yang sangat optimistik justru adalah orang-orang yang sudah banyak mengalami ups and downs dalam hidup mereka. Mereka orang-orang yang membuat banyak orang nyaman dengan mereka. Sekarang baru gue ngeh kenapa... Itu bukan karena they had a good upbringing, atau mereka pintar. Bukan. Mereka orang-orang yang sering digodok dalam kesukaran, tapi mereka tidak menjadi pahit. 

Buat teman-teman yang juga sedang dirundung masalah, yang merasa tertekan, izinkan gue share ayat fave gue di masa-masa ini, 

"Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka." —Mazmur 90:15

Ayat barusan gue ketik di luar kepala. Karena ini ayat yang jadi pegangan gue di hari-hari ini. Ini ayat yang gue dapet sewaktu gue masih kuliah di China. Pertama kali baca ayat itu gue ngerasa lega. AKHIRNYA... Ada ayat yang mengakui bahwa terkadang Tuhan menindas umat-Nya. Instead of saying, "Everything will be okay, just trust Him," penulis Mazmur ini berani berkata dengan lantang, “Tuhan, Kau menindasku!” Oh Tuhan, tolong jangan cuman tindas gue, buatlah juga gue bersuka cita seimbang dengan hari-hari gue mengalami sengsara. Ayat ini nancep, karena ini ayat yang jujur. Ga muna. Ga sok beriman. Dan ini ayat yang ditulis oleh orang yang dirundung duka. Orang yang mengalami celaka. Tapi ia tahu, ia berani meminta Tuhan, buatlah gue bersukacita seimbang dengan hari-hari gue mengalami celaka. Ini ayat yang mengandung pengharapan. Pengharapan bahwa di depan akan ada 'payback time from God'. Akan ada hari-hari dimana Tuhan membuat kita bersukacita. Dan tidak hanya sekedar bersukacita, tapi Ia akan membuat gue bersukacita SEIMBANG bahkan lebih dari bulan-bulan gue mengalami celaka.

Dan ayat kedua,

"I will see the goodness of the Lord in the land of the living." —Psalm 27:13

Kalo lagi menderita emank paling enak baca Mazmur. Ini ayat sebenernya juga agak 'kurang ajar' sih. Pede banget si Daud, berani bilang dia bakal liat the goodness of the Lord selama dia masih hidup. Kok dia yakin? Siapa tahu Tuhan mau kasih berkatnya setelah dia mati? Ga ada yang tau kan? Ini yang dipelajarin dari para pemazmur. Mereka orang-orang yang jujur. Ga ada basa-basi. Jujur dengan kesedihan mereka, dengan ketakutan mereka, dengan rasa frustasi mereka, dengan kemarahan mereka. But they're also very bold. Mereka berani meminta. Bukan sekedar doa, "Terserah Tuhan... Tuhan tau yang terbaik. Keliatan beriman, tapi kadang itu lahir dari ketakutan. Iya kalo dikasih... Kalo Tuhan ga kasih gimana? Terserah Tuhan aja dah. Main aman. Pemazmur tidak seperti itu. Ia meminta apa yang ia percaya. Ia percaya hal-hal yang besar. Dan mereka percaya, Tuhan itu Tuhan yang baik. Tuhan yang tidak marah ketika anak-anak-Nya meminta. Dan gue bersyukur gue punya Tuhan yang sama dengan mereka. :) 

*** 

God, I know You’re too wise to be mistaken.

Friday, July 14, 2017

Be Kind to the Unthankful?


by Azaria Amelia Adam

Tentang kemurahan hati, saya belajar hal penting dari Tante saya yang dua kali menyekolahkan anak dari SMA sampai Perguruan Tinggi. Saya punya keluarga besar yang hidupnya tidak seberuntung saya. Ada sepupu yang tidak berkesempatan untuk melanjutkan sekolah, dua diantaranya disekolahkan oleh Tante saya. Lalu, apa istimewanya menolong keluarga? 

Ceritanya seperti ini, setelah lulus SMP, sepupu saya disekolahkan ke jenjang SMA oleh Tante saya. Tante saya menanggung semua biayanya, mulai dari pendaftaran, SPP, buku, seragam, dan uang saku. Sepupu saya yang berasal dari sebuah kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) disekolahkan di salah satu sekolah swasta di Surabaya. Ya, pastinya fasilitas pendidikannya jauh lebih baik. Tetapi, entah kenapa, nilai akademis mereka kurang memuaskan. Untungnya, sepupu yang pertama berhasil lulus SMA dan disekolahkan lagi ke perguruan tinggi di Kupang. Tetapi dalam perjalanan kuliahnya, ternyata dia sering bolos dan akhirnya terancam drop out. Sepupu yang kedua, tidak bisa melanjutkan sekolah karena nilai ujian yang tidak melewati passing grade ke perguruan tinggi. 

Beberapa kali saya pernah spontan bicara kepada Tante saya, “Ngapain sih Tante kasih sekolah orang-orang seperti itu? Mereka kayak gak berterima kasih udah disekolahin di tempat bagus. Liat aja caranya mereka, ngga pernah belajar, malas banget. Udahlah ngga usah lagi Tante sekolahin sepupu-sepupu yang kayak gitu”. Tetapi tetap saja, ada lagi sepupu lain dari NTT, diajak ke Surabaya untuk disekolahkan. Kata Tante, “Lebih baik kita bantu keluarga kita yang membutuhkan”.

Saat itu saya jadi tambah kesal mendengar jawaban Tante. Oke, memang kita harus saling menolong, tapi kalau dua kali tidak ada hasilnya, buat apa? Daripada menyekolahkan sepupu yang tidak bisa berterima kasih, masih banyak orang lain yang ingin sekolah. Tetapi setelah mempelajari ciri kasih yang murah hati, saya mengerti, justru perbuatan itulah yang Tuhan ingin kita lakukan. 

Dalam Galatia 5, buah roh kemurahan adalah perbuatan yang digerakkan karena kepedulian akan orang lain, keinginan untuk melakukan kebaikan bagi orang lain. Kemurahan dimulai dari kepedulian, berbelas kasih kepada orang lain. Jika Tuhan menginginkan kita memperhatikan sesama manusia (Amsal 12:10). 

Kemurahan hati membutuhkan usaha. Jujur saja lebih mudah kita mengikuti keinginan daging daripada keinginan roh (Galatia 5:16-17). Rasa mementingkan diri sendiri lebih mudah muncul secara natural. Berbeda dengan kemurahan hati yang meletakkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi. Seperti yang dikatakan dalam Filipi 2:3-4, “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga”

Firman Tuhan menegur saya dengan keras, jika kamu hanya bermurah hati pada orang yang baik, lalu apa jasamu? Apa yang membedakan pengikut kristus dengan orang biasa? Bahkan dalam ‘standar normal’ orang berdosa pun tahu bagaimana berbuat baik untuk orang yang dianggap menguntungkan baginya (Lukas 6:32-34). 

Sekarang jika kita melakukan sesuatu untuk kebaikan orang lain tetapi tidak dibalas dengan rasa terima kasih, secara manusia kita pasti jengkel dan rasanya tidak mau lagi menolong mereka. Tetapi bermurah hati untuk orang yang baik saja tidak cukup, jika kita ingin disebut pengikut Kristus. Kita perlu berbuat lebih dari standar normal dunia.

Firman Tuhan jelas memberikan standar yang lebih tinggi untuk pengikut Kristus: berbuat baik kepada semua orang, bahkan yang jahat sekalipun. Yesus mengajarkan agar kita mengasihi dan berbuat baik kepada musuh kita. Memberikan pinjaman dengan tidak mengharapkan balasan. Dengan melakukan semua itu, baru kita layak disebut anak-anak Tuhan Yang Maha Tinggi. (Lukas 6:35).

Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati (Lukas 6:36)

Wednesday, July 12, 2017

BOOK REVIEW: Sacred Pathway - Discover Your Soul’s Path to God (Gary Thomas)


by Azaria Amelia Adam

Bagaimana cara kita untuk berjumpa dengan Tuhan?

Apakah waktu teduh yang rutin setiap hari cukup membuat kita bisa mengalami pertumbuhan rohani? Dalam buku ini, Gary Thomas memulai penjelasan dengan analogi, tidak ada satu obat yang dapat mengatasi semua penyakit. Artinya, kita tidak bisa memaksakan semua orang mengikuti satu cara saja untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Karena Tuhan menciptakan kita dengan berbeda-beda, ada perbedaan pula dalam usaha kita mencari Tuhan. 

Orang yang bekerja mungkin merasa heran kenapa ada orang yang mampu berdoa berjam-jam. Apakah kita harus seperti itu agar bisa mengalami perjumpaan dengan Tuhan? Atau mungkin sebagai pemuda energik, kita bertanya kenapa ada orang yang betah beribadah dalam gereja liturgis yang tampaknya kaku?

Dalam buku ini, Gary Thomas menjelaskan tentang sembilan tipe spiritualitas yang berbeda, lengkap dengan ciri-ciri, kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Kita dapat menemukan salah satu atau lebih tipe spiritual yang sesuai dengan diri kita. Buku ini menjelaskan ada 9 (Sembilan) jalan kudus: Kaum Naturalis yang mengasihi Tuhan di alam terbuka, Kaum Indrawi yang mengasihi Tuhan dengan panca indra, Kaum Tradisionalis yang mengasihi Tuhan melalui ritual dan simbol, Kaum Askese yang mengasihi Tuhan dalam keheningan dan kebersahajaan, Kaum Aktivis yang mengasihi Tuhan melalui konfrontasi, Kaum pemerhati yang mengasihi Tuhan dengan mengasihi sesama, Kaum Antusias yang mengasihi Tuhan dalam misteri dan perayaan, Kaum Kontemplatif yang mengasihi Tuhan dalam pemujaan dan Kaum Intelektual yang mengasihi Tuhan dengan pikiran.

Dari buku ini, saya secara pribadi jadi mengerti mengapa ada berbagai denominasi gereja. Semua ini karena Tuhan menciptakan masing-masing kita dengan unik menurut tujuan-Nya. Saya juga mengerti, kenapa ada hamba Tuhan yang kelihatannya senang sekali berargumentasi. Ternyata beliau termasuk kaum aktivis. Setelah saya membaca tentang kaum Askese dan kaum Tradisionalis, tidak ada lagi kritik tentang liturgi gereja dan hadirat Tuhan. Itu semua karena setiap orang memiliki perjalanan rohani yang berbeda. Hal yang kita pikir biasa saja atau membosankan, bisa jadi menjadi sangat menyentuh dan menumbuhkan iman bagi orang lain. 

Jika kita merasa perjalanan rohani kita tidak seperti yang kita mau, kita bisa belajar menatanya kembali dari sini. Buku Sacred Pathway, membantu kita menemukan perjalanan rohani yang membawa kita menuju pertumbuhan dan pengalaman akrab berjalan bersama Tuhan.

Monday, July 10, 2017

A Testimony : He is Jehovah Rapha



by Azaria Amelia Adam

Sore hari di bulan November 2016, saat aku sedang menjalani jadwal jaga IGD seperti biasa, ada seorang gadis berusia 19 tahun diantar keluarganya karena kecelakaan motor. Sejujurnya, waktu menerima pasien tersebut, aku agak kesal. Ternyata, cedera di kepala gadis itu disebabkan karena dia tidak memakai helm. Tapi, sebagai dokter, tentu saja aku tetap wajib melayani. Aku dan tim di IGD segera melakukan penanganan pertama untuk gadis tersebut. Oksigen dan infus sudah terpasang, obat-obatan emergensi sudah diberikan. Setelah pemeriksaan lengkap, kami tahu gadis ini mengalami perdarahan di kepala. Kesadarannya semakin menurun. Tanpa operasi darurat, gadis itu tidak akan selamat.

Sayangnya, rumah sakit tempat aku bekerja tidak memiliki fasilitas penunjang CT Scan yang dibutuhkan untuk penentuan lokasi operasi. Meskipun awalnya aku cenderung menyalahkan gadis itu, belas kasihan muncul saat aku sadar pasien ini seorang gadis muda, baru 19 tahun, dengan cedera kepala. Gadis ini mengalami jenis perdarahan di kepala yang, aku tahu, jika dioperasi kemungkinan sembuhnya besar. Rasanya tidak akan bisa pulang jaga dengan lega jika tidak memastikan pasien ini dapat tindakan yang terbaik.

Akhirnya, pasien itu bisa kami rujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas CT scan dan ahli bedah saraf. Btw, aku bekerja di Kupang, NTT, yang hanya punya satu ahli bedah saraf. Aku sampaikan ke keluarga bahwa pasien sudah berada di tempat yang tepat dan segera dioperasi. Aku juga memberitahu bagaimana cara mengurus asuransi kesehatan agar beban keluarga lebih ringan. Aku bersyukur sudah melakukan tugasku, berdoa menyerahkan semuaya pada Tuhan, dan pulang dengan tenang.

Dua bulan kemudian, aku dapat kejutan. Gadis yang aku tolong, datang ke IGD bersama tantenya. Menurut cerita, setelah operasi, dia sempat koma selama 3 minggu. Tapi, Tuhan berikan kesembuhan dan pemulihan. Tidak ada kata-kata yang bisa melukiskan betapa senangnya aku hari itu. Aku tidak berhenti bersyukur, menitikkan air mata sambil memuji Tuhan. Inilah perasaan terbaik bagi seorang dokter, melihat senyum pasien yang sembuh dari fase kritis.

Satu hal yang aku sampaikan kepada gadis itu, “Tuhan sudah menyelamatkan kamu dari maut. Bahkan, biaya perawatan seluruhnya diberikan Tuhan lewat asuransi. Maka, berikan sisa hidupmu untuk Tuhan”.

Bagiku yang seorang tenaga kesehatan ini, hari itu adalah salah satu hari terbaik yang Tuhan ijinkan terjadi. Suatu peringatan buat aku agar selalu melakukan yang terbaik untuk setiap pasienku, satu per satu, apapun kondisi dan prognosisnya. Kita tidak tahu, mujizat apa yang Tuhan akan lakukan kepada mereka. Bagaimana pengalaman bersama Tuhan akan mengubah hidup mereka, siapa yang tahu?

Inilah kesaksian hidupku.

Aku memuji Tuhan sang Jehovah Rapha, yang dengan kemurahan-Nya telah meneguhkan setiap perbuatan tanganku (Mazmur 90:17). Amin

Friday, July 7, 2017

God, I hurt



by Sarah Eliana

Ladies,
Hari ini aku mau share puisi yang sangat meaningful ini. Semoga teman–teman diberkati :)

GOD, I HURT
-Author Unknown-

I said, "God, I hurt."
And God said, "I know."
I said, "God, I cry a lot."
And God said, "That's why I gave you tears."

I said, "God, I'm depressed."
And God said, "That's why I gave you sunshine."

I said, "God, life is so hard."
God said, "That's why I gave you loved ones."
I said, "God, my loved one died."
And God said, "So did mine."

I said, "God, it is such a loss."
And God said, "I saw mine nailed to a cross."
I said, “But God, your loved one lives."
And God said, "So does yours."

I said, "God, where are they now?"
And God said, "Mine is on My right side,"
And yours is in the light."

I said, "God it hurts"
And God said, "I know."


Berkatalah Yesus ... "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat,
Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku,
karena Aku lemah lembut dan rendah hati
dan jiwamu akan mendapat ketenangan sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan
Matius 11 : 28 - 30