Monday, May 29, 2017

Peace When You Are Pissed




by Wellney Yarra

Hello, Ladies!

Mungkin kalian udah bisa nebak juga dari judul artikelnya apa yang akan kita bahas kali ini. Yuup! Kali ini, kita akan membahas tentang “peace” alias damai sejahtera. Apa sih sebenernya arti damai itu? Nah, sebelum kita bahas lebih lanjut, aku pengen share Mazmur 27:4 yang berbunyi demikian, “Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN, dan menikmati bait-Nya.” Ayat yang sungguh menenangkan bukan? Kalau membaca ayat ini, aku pun langsung berpikir tentang mengasingkan diri ke tempat yang tenang dan menikmati hadirat Tuhan. Mirip-mirip kalau retret ke Puncak gitu deh... 

Seringkali ketika kita mendengar kata ‘damai’, kita langsung berpikir tentang suasana yang tenang, aman, dan tentram. KBBI juga mengartikan kata ‘damai’ sebagai ‘tidak ada perang; tidak ada kerusuhan, aman.’ Namun, sebenernya apa sih arti damai menurut Alkitab? 

Kata ‘damai’ diambil dari bahasa Ibrani, ‘shalom,’ yang artinya... ‘Tidak ada yang hilang.’ Apakah kalian melihat perbedaannya? KBBI mengartikannya sebagai ‘tidak ada perang,’ namun Alkitab mempunyai pengertian damai yang berbeda, yaitu ‘tidak ada yang hilang.’ Untuk mengerti lebih lanjut, mari kita baca kembali Mazmur 27, namun kali ini kita baca dari ayat yang pertama. 

Dari Daud. Tuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh. Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itupun aku tetap percaya. Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN, dan menikmati bait-Nya. 
(Mazmur 27:1-4) 

Jeng jeng! Ayat yang selama ini membuat kita berpikir tentang suasana yang diam dan tenang ternyata Daud tulis ketika ia sedang melarikan diri dari Saul. Itu sebabnya kita juga dapat melihat di ayat kedua dan ketiga, di mana ia menuliskan bahwa ia diserang, dikepung dan peperangan pun timbul melawan dia. Namun Daud tidak berhenti sampai disana. Dia pun melanjutkan dan menuliskan di ayat ke-4, bahwa terlepas dari semua hal yang terjadi di dalam kehidupannya, dia ingin diam di rumah Tuhan seumur hidupnya, menyaksikan kemurahan Tuhan, dan menikmati bait Tuhan. 

Kembali ke definisi “shalom,” yaitu ‘tidak ada yang hilang.’ Apa yang dapat kita pelajari dari cerita Daud? Kita belajar, bahwa ‘damai’ tidak tergantung kepada keadaan. Definisi damai bukan seperti yang diartikan KBBI, yaitu keadaan dimana tidak ada peperangan. Damai yang sesungguhnya yaitu ketika kita, seperti Daud, tidak merasakan kehilangan walaupun hidup kita saat ini seperti zona perang, karena kita tahu Tuhan beserta kita. Damai bukan perasaaan yang kita rasakan ketika semua hal berjalan dengan aman, tentram dan baik-baik saja. 

Damai adalah...

Ketika kita diserang, dikepung dari segala arah, ketika masalah-masalah menghadang, ketika kita menghadapi peperangan, dan terlepas dari semuanya itu, kita tidak merasa kehilangan. 

Hidup kita tidak harus sempurna terlebih dahulu agar kita dapat merasakan damai. Masalah-masalah dalam hidup kita tidak harus menghilang dulu agar kita dapat merasakan damai. Peperangan dalam hidup kita tidak harus usai dulu agar kita dapat merasakan damai. Sebab, damai dari Kristus tidak tergantung keadaan: Ia “melampaui segala akal” dan “memelihara hati & pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:7

Aku tidak tahu bagaimana hidup kalian saat ini dan masalah-masalah apa yang sedang merenggut damai sejahtera dari hidup kalian. Namun, kalian tidak perlu membiarkan damai kalian hilang karena keadaan lagi. From now on, you know you can have peace, even when you’re pissed.

Friday, May 26, 2017

Be Grateful, Always...



by Yunie Sutanto

Rhema Marvanne, penyanyi gospel cilik yang kini berusia 15 tahun, menulis lagu karyanya "I Thank God" di albumnya yang ketiga, Believe. Album yang sudah diluncurkan sejak tahun 2011 ini sangat memberkati pendengarnya. Suara khas Rhema tak lagi hanya memuaskan para Youtubers, namun sudah bisa dibeli versi mp3 dan CD nya di Amazon dan iTunes.

Hati yang dipenuhi kasih Kristus tentu akan mengalirkan puji-pujian dan ucapan syukur yang tak habis-habisnya. Kisah hidup penyanyi cilik yang sudah kehilangan ibunya di usia enam tahun karena kanker ovarium, juga turut membentuknya lebih dewasa dari usianya. An old soul, demikian sebutan untuk anak-anak yang lebih dewasa secara emosional dan mental, karena tempaan hidup yang membentuknya demikian. Rhema menyanyikan lagu-lagu gospel dengan penuh penghayatan, seolah bukan anak seumurannya! Gaya menyanyinya yang khas, teknik menarik suaranya yang indah, sungguh memberkati telinga pendengar. A must have CD in every Christian home!

Suara Rhema terlahir dari hatinya yang mengalami Tuhan dan meluap dalam ucapan syukur yang tak berkesudahan untuk kebaikan-kebaikanNya. Jika seorang Rhema Marvene yang diijinkan melihat kanker menggerogoti tubuh ibunya, hingga detik-detik terakhir ibunya bernafas, bisa berkata bahwa Tuhan Yesus baik, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita bersyukur saat diijinkan-Nya melewati proses hidup ?

Begitu banyak yang bisa disyukuri. Pagi ini terbangun dari tidur dan mendengar lagu ini mengalun, rasanya tak pernah habis kebaikan Tuhan kalau dicatat satu per satu ya? Yuk, latih mata kita untuk fokus pada hal-hal indah yang Tuhan beri setiap harinya! Jangan fokus pada masalah dan segala ketidaknyamanan kita! Gagal fokus judulnya itu mah! Latih mata kita untuk fokus pada pekerjaan-pekerjaan Tuhan sepanjang hari yang kita lalui. Bisa saja kasih-Nya kita temui dalam hal-hal kecil: ngga sengaja ketemu sohib lama, dompet yang hampir hilang namun dikembalikan pelayan restoran, sampai di kantor dengan selamat, bisa pulang rumah tepat waktu, bisa terbangun dari tidur, bisa memeluk anak-anak, bisa memasak untuk suami, bisa tersenyum tanpa sakit gigi lagi, sariawan yang uda sembuh, wow... and the list goes on.....

Keep a grateful journal and we can see so many of His blessings! Teringat saja bahwa seperti apapun kondisinya hidup kita, selalu ada kebaikan Tuhan yang kita bisa syukuri! There are always reasons to be grateful!


Wednesday, May 24, 2017

Live in Peace



by Yunie Sutanto

Saat kita meninggal, pada nisan kita tertulis Rest in Peace. Saat kita hidup, bisakah kita Live in Peace juga? Seberapa banyak dari kita yang hidup dengan perasaan tenang, tentram, damai sejahtera, menikmati hidup one day at a time, living in peace? Hmmm... jangan-jangan live in panic lebih pas untuk hidup kita.

Dunia maya begitu menyita perhatian kita. Antrian chats Whatsapp menunggu direspon. Antrian notifikasi Facebook rasanya tidak sabar untuk dibaca. Antrian comments Instagram wajib dibalas satu per satu. SMS yang harus dibalas pun bejibun. Belum lagi email. Grup alumni di LINE pun demikian menyita waktu. Rasanya isi pikiran dalam satu hari saja sudah terbombardir oleh sekian banyak hal.

Peace? Are we sure we can still live in peace?

Suara yang mana yang harus kita dengarkan? Apakah kita sudah memilih dengan benar? Whose voices are we listening to?
Seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya (Lukas 3:4)
Setiap keputusan dan tindakan kita banyak sekali dipengaruhi oleh suara-suara yang kita dengarkan. To live in peace, we should choose wisely! Curhat pada orang yang salah bisa memperkeruh keadaan. Saat hidup kita seolah padang gurun, keputusan yang mana yang harus dijalani? Suara siapa yang kita dengarkan? Apakah kita mencari kehendak Tuhan? Apakah kita mendengarkan suara-suara yang menuntun pada kebenaran?
Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya (Yesaya 32:17)
Kebenaran selalu berbuahkan damai sejahtera. Saat hati dan pikiran mulai kehilangan damai sejahtera, artinya ada area dalam hidup kita yang sedang tidak benar. Lantas, bagaimana untuk tetap hidup dalam kebenaran?
"Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.

Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat." [emphasis added] (Mar 4:3-8)
Tuhan Yesus mengajarkan tentang empat jenis tanah hati. Kita fokus membahas tanah hati yang kedua dan ketiga: tanah berbatu-batu dan tanah semak duri.
Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad. (Mar 4:16-17)
Tanah yang berbatu-batu itu tidak banyak tanahnya, lalu benih kebenaran pun segera tumbuh. Tanah yang tipis, penuh batu akan mempersulit akar tertancap. Tanah hati yang penuh batu harus dibuang dulu batu-batu kerasnya supaya lebih banyak ruang untuk pertumbuhan akar! Adakah area dalam hati kita yang masih keras seperti batu? Kebiasaan lama yang sudah membatu dan sulit berubah? Padahal sudah tahu merokok itu salah, namun untuk melakukan hal benar, stop merokok kok sulit sekali? Adakah memori masa lalu yang susah terpatri jadi monumen di hati kita? Sindrom gagal move on? Masih terus ingat si mantan padahal sudah jadi istri orang? Masih inget mendiang papa yang sudah lama meninggal dan menyalahkan keadaan? Batu-batu yang berasal dari masa lalu harus dibuang dari tanah hati kita. Untuk hidup dalam damai sejahtera, kita harus berdamai dengan masa lalu kita.
Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah (Mar 4:18-19)
Tanah semak duri ialah tanah yang dipenuhi kekuatiran sehingga benih tersebut terhimpit pertumbuhannya. Ada pertumbuhan benih yang nampak, tapi tanpa buah. Petani pasti akan mencabuti semak duri dari tanaman, agar tidak terganggu pertumbuhannya. Saat rasa kuatir menguasai hati kita, tidak ada damai sejahtera! Rasa kuatir menguras energi pikiran kita. Masa depan kita di tangan Tuhan, jika kita terus kuatir berarti kita tidak meletakkan harapan kita pada Tuhan. Kita mencoba dengan kekuatan sendiri. Orang yang kuatir seperti kursi goyang, yang tidak bergerak ke arah manapun, hanya bergoyang di tempat. Kuatir bagaimana anak-anak jika sudah besar nanti, kuatir jika suami sakit parah, kuatir jika bisnis tidak ramai lagi... Untuk bisa hidup dengan damai sejahtera, kita harus berdamai dengan masa depan!
Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang (Amsal 23:18)
Percaya pada Tuhan Yesus dan jalani hidup kita one day at a time! Kebenaran selalu berbuahkan damai sejahtera. Agar tetap hidup dalam kebenaran, jaga hati dengan segala kewaspadaan! Jaga apa yang didengarkan telinga kita! Suara-suara apa yang masuk? Pastikan benih firman Tuhan yang tumbuh subur di tanah hati kita, bukan semak duri, bukan lalang!

Percaya pada janji dan penyertaan Tuhan:
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11)
Tuhan Yesus selalu menyertai kita melalui setiap musim hidup kita. Kita bisa melalui keadaan yang sulit karena Tuhan menyertai dan menguatkan. As His disciples, we can live in peace.
Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu (Yohanes 14:27)

Monday, May 22, 2017

Book Review: Created to be His Help Meet



by Yunie Sutanto

Judul Buku: Created to be His Help Meet
Penulis: Debi Pearl
Penerbit: No Greater Joy Ministries

Pertama kali baca judul buku ini rasanya agak gugup campur gemes. What? I am created to be his help meet? His helpmeet alias pembantu? Well, memang sih, kata “pembantu” mungkin kesannya lebay kalau dibandingkan dengan kata “penolong” yang lebih sering digunakan.

Gara-gara itu, jadi muncul pertanyaan, “Memangnya ada yang salah dengan judul ini, kok pikiranku terusik? Padahal baru baca judulnya saja lho...” Segala teori tentang emansipasi wanita dan kesetaraan gender seolah bangkit dan berteriak-teriak: Ini kan bukan lagi zaman Siti Nurbaya atau Ibu Kartini? Bukankah pria dan wanita itu sejajar? Seharusnya tidak ada yang statusnya Cuma sekedar “penolong” dong!

Tapi, membaca buku ini bab demi bab, Tuhan membukakan banyak rancangan-Nya mengenai pernikahan. Yang luar biasa, buku ini ditulis oleh seorang wanita biasa, bukan penulis profesional ataupun pembicara terkenal. Ia hanyalah seorang istri yang bahagia menjalani perannya sebagai penolong bagi suaminya. Ia puas menjalani bagian sebagai seorang istri yang mendukung suaminya dalam menjalani tujuan hidup yang Tuhan sudah tetapkan di dunia ini.

Meskipun nampaknya sederhana dan tak terlihat, peran wanita dalam rumah tangga sebetulnya sangat penting! Di era ketika banyak orang menginginkan pengakuan dan ingin menonjolkan ke”bisa”annya, menjalani peran wanita dalam rumah tangga versi Firman Tuhan justru melawan arus! Be the hidden woman that does her work from sun to sun, giving her best for her family. Be the hidden woman that plays her role beautifully behind every scene, but yet nobody sees her. She knows that her job is important, and her boss is Jesus Christ, not any mortals!

Pada masa-masa awal pernikahan, keluarga adalah ladang misi dan pelayanan kita. Gaya Debi Pearl dalam menantang dan mengajak kita untuk menikmati peran ini sangat encouraging. Tidak hanya berperan dalam rumah tangga, buku ini juga mengajar kita untuk berperan dalam komunitas. Memang ada masanya kita begitu sibuk membesarkan anak dan mengurus rumah tangga, namun ada masanya juga saat anak-anak mulai meninggalkan sangkar dan kita mulai mendapat tugas baru dari Tuhan. Ketika masa itu tiba, Tuhan memberi tugas wanita lebih tua untuk mengajar wanita lebih muda mengenai peran wanita dalam rumah tangga. Pada saat itu, kita dilatih untuk menjalani masa-masa mentoring, kesempatan untuk berbagi hidup dan kesaksian dengan wanita-wanita yang lebih muda.

Saya suka dengan gaya ringan, apa adanya, serta humoris dari Debi Pearl. Untuk para wanita yang sudah menikah, termasuk mereka yang sedang menyiapkan pernikahan, this book is a must read!

Friday, May 19, 2017

Panik!



by Glory Ekasari

Mazmur adalah kitab yang familiar bagi orang Kristen. Tapi suatu kali ketika membaca Mazmur 3, saya baru ngeh bahwa ada sesuatu yang saya lewatkan. Kondisi Daud ketika menulis Mazmur itu adalah di pengungsian, karena dia terusir dari istana di Yerusalem. Absalom, anaknya sendiri, mengadakan kudeta melawan dia, yang akhirnya berakhir dalam pertempuran berdarah. Israel saat itu terpecah karena sebagian rakyat mendukung Absalom. Dalam pengungsian, Daud menulis sebuah nyanyian bagi Tuhan. Setelah meminta pertolongan pada Tuhan (secara literal dia berkata bahwa dia berteriak kepada Tuhan), Daud berkata,
“Aku membaringkan diri, lalu tidur;
aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!
Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang
yang siap mengepung aku.”
Ok, sepintas begitu saja. Tapi sekarang mari kita visualisasikan apa yang dialami Daud.

Pada suatu malam, anda sedang di rumah bersama suami dan anak. Tiba-tiba datang segerombolan laki-laki yang berkerumun di pintu depan dan belakang rumah anda, dan mereka menggedor-gedor pintu sambil membawa obor. “Buka!” kata mereka. Ketika anda mengintip, anda melihat orang-orang itu membawa berbagai macam senjata tajam. Mereka berteriak-teriak dan makin heboh menggedor-gedor pintu sambil mengancam akan berbuat jahat terhadap anda sekeluarga, bahkan membakar rumah dengan keluarga di dalamnya, bila pintu tidak dibukakan.

Bagaimana perasaan pembaca?

Daud mengalami hal yang sama. Dia terusir dari rumahnya dan dikepung orang-orang yang siap “menerkam” dia kapan saja. Pada saat itu Daud sudah tidak muda, dan kita tahu orang tua lebih gampang takut daripada yang muda. Saya membayangkan Daud dilanda stres yang luar biasa dan tekanan psikologis karena dikudeta oleh anaknya sendiri. Dia berkata ada “puluhan ribu orang yang siap mengepung aku”. Kita tidak tahu persis jumlahnya, tapi yang jelas banyak orang siap berbuat jahat terhadap dia.

Tapi apa yang Daud lakukan? “Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!”

Tidur! Tidur adalah hal terakhir yang bisa kita lakukan ketika dalam keadaan stres berat. Bagaimana mungkin Daud bisa tidur? Dia berkata dengan penuh kepercayaan: “Sebab TUHAN menopang aku!”

Saya merenungkan ini dengan sungguh-sungguh. Raja yang sudah tua itu adalah orang yang kaya pengalaman bersama Tuhan. Ketika dia masih bukan siapa-siapa, Tuhan menolong dia melawan singa dan beruang di padang. Dengan iman kepada Tuhan yang telah menyelamatkannya dari binatang buas, dia maju berperang melawan raksasa Filistin—dan menang! Kemenangan demi kemenangan terus diraih Daud, sekalipun dalam pelarian dari raja Saul. Daud tidak sungkan mengatributkan seluruh kejayaannya kepada Tuhan:
Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan
dan membuat jalanku rata;
yang membuat kakiku seperti kaki rusa
dan membuat aku berdiri di bukit;
yang mengajar tanganku berperang,
sehingga lenganku dapat melenturkan busur tembaga.
Kauberikan kepadaku perisai keselamatan-Mu,
tangan kanan-Mu menyokong aku,
kemurahan-Mu membuat aku besar.
—Mazmur 18:33-36
Kepada Allah itulah Daud mempercayakan hidupnya. Dan pada malam itu, ketika puluhan ribu orang siap menghancurkan dia, Daud malah tidur dengan nyenyak, karena ia sudah berseru kepada Allah dan ia percaya Allah mendengarkan doanya.

Kira-kira 1500 tahun setelah Daud, rasul Paulus menulis dari dalam penjara kepada jemaat di Filipi. Dia menghadapi hukuman mati, tapi rasul itu tidak gentar. Dia tidak takut pada kematian. Dia tidak takut pada celaka. Dia tahu bahwa di dalam Tuhan, tubuh dan jiwanya terpelihara dan hidup kekal menantinya. Inilah nasehatnya bagi kita:

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” —Filipi 4:6-7

Seperti kata seorang bijak, “Pray, and let God worry.” Berdoa, serahkan semuanya pada Tuhan, dan tidurlah dengan nyenyak.

Wednesday, May 17, 2017

It Ends With Me



by Glory Ekasari

Papa saya seorang pendeta. Suatu kali ketika dia berkhotbah di gereja, dia menceritakan pengalamannya ketika marah pada seseorang. Katanya, mama menasehati dia dan mengingatkan sebuah ayat firman Tuhan, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung kepadamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang” (Roma 12:18). Rupanya nasehat itu berkesan buat papa, sampai diceritakan dalam khotbahnya.

Kalau kata dunia, kita baiknya memperlakukan seseorang sebagaimana dia memperlakukan kita. Kalau orang itu baik pada kita, ya be nice in return. Tapi kalau dia kurang ajar, yah mungkin orang itu perlu diajarin tata krama. Tapi yang dikatakan dalam ayat ini sangat berbeda.

Sedapat-dapatnya, ketika kita diprovokasi orang lain (dihina, dimarahi, dipermalukan, disakiti dll), rasanya pengen membuat pengecualian untuk kasus kita, supaya kita boleh membalas dendam, marah balik, atau apapun yang memuaskan ego kita. Ketika saya membaca “sedapat-dapatnya”, saya mendapat kesan, “Tahan sedikit lagi.” Ada perkataan bijak, “Ketika hendak berbicara, hitung sampai tiga sebelum perkataan keluar dari mulutmu, supaya kamu punya waktu untuk memikirkan perkataanmu. Ketika hendak marah, hitung sampai sepuluh sebelum berkata-kata.” Jangan buru-buru ngamuk. Sabar sedikit lagi, sebentar lagi, tahan sehari lagi. Stretch your heart as wide as possible.

Kalau hal itu bergantung kepadamu. Ah, ini dia. Kadang yang timbul dari kita semata-mata adalah reaksi dari apa yang orang lain lakukan terhadap kita. Tapi tidak. Firman Tuhan yang adalah kebenaran menunjukkan pada kita bahwa kita punya kuasa atas diri kita sendiri. Kuasa itu diberikan oleh Roh Kudus. Ketika orang lain melemparkan permusuhan kepada kita, kita punya pilihan: lempar balik, atau letakkan bola api itu dan tidak mempermasalahkannya lagi. Ini bergantung pada kita. Kita bukan mahkluk yang pasif memantulkan apa yang orang lemparkan pada kita. Kita bukan cermin yang mencerminkan ketidaksukaan orang lain terhadap kita. Kita adalah gambar dan rupa Allah, menampilkan Allah kepada siapapun yang memandang kita. Membalas berarti mengikuti kelemahan daging kita. Menjaga perdamaian berarti tunduk pada pimpinan Roh Kudus. Yang mana pilihan kita?
Paulus meneruskan nasehat yang indah ini dengan sebuah tantangan bagi kita: 
“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, Firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”
—Roma 12:19-21
Menyerah pada kejahatan dengan membalasnya adalah suatu kekalahan. Berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat pada kita adalah kemenangan. Bukan sebaliknya! Siapa yang memiliki Roh Kudus, hatinya dipenuhi damai sejahtera, dan ini kelihatan dari perbuatannya: dia membawa damai bagi orang lain.

Ketika kita diprovokasi, ketika orang mengusik damai yang ada dalam hati kita, ketika orang hendak mengalahkan kita dengan kejahatan, mari kita hitung sampai sepuluh dan sementara itu berpikir: “Sekarang ini tergantung saya, apakah saya akan membalas kejahatan atau membawa damai. Bola panas ada di tangan saya, saya harus mengambil keputusan untuk melempar balik, atau mengakhiri masalah ini. Since I have the power, I have decided, it ends with me.

Monday, May 15, 2017

Damai Sejahtera Bagi Kamu


by Glory Ekasari

Ketika beribadah di gereja, orang-orang di gereja saling menyapa dengan berkata, “Syalom.” Kata itu bisa diartikan “salam damai,” yang berarti kita mengharapkan damai sejahtera bagi orang lain. Dalam kondisi biasa, ucapan damai itu selayaknya salam pada umumnya. Tetapi bagaimana bila kita sedang bingung, gelisah dan ketakutan?

Itulah yang dialami murid-murid Yesus. Mereka bingung setelah mendapat laporan dari sekelompok wanita yang masih shock karena melihat kubur Yesus yang kosong dan bertemu secara pribadi dengan Guru mereka yang telah mati disalib itu! Mereka gelisah; bila Yesus benar bangkit, di mana Dia? Apa yang harus mereka lakukan tanpa Guru mereka? Mereka juga ketakutan karena sewaktu-waktu orang-orang yang telah menyalibkan Yesus bisa saja datang menangkap dan menghukum mati mereka karena mereka pengikut Yesus. Dalam kebingungan, kegelisahan, dan ketakutan, murid-murid Yesus berkumpul di satu ruangan dengan pintu terkunci. Kita bisa membayangkan betapa berat suasana dalam ruangan, tidak ada satupun yang tersenyum atau bersenda gurau.

Tiba-tiba Yesus muncul! Entah dari mana, mereka tidak melihat bagaimana Dia masuk. Pintu masih terkunci rapat, jendela tertutup. Dengan mata terbelalak murid-murid itu memandang Guru mereka. Dan Dia berkata,

“Damai sejahtera bagi kamu.”

Sekitar tiga puluh tahun sebelumnya, sekelompok gembala sedang menjaga domba mereka di padang rumput di kota Betlehem, Yudea. Tiba-tiba langit menjadi terang seperti siang, dan malaikat, ribuan jumlahnya, muncul di langit, dan bernyanyi dengan suara menggelegar,


“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi,

dan damai sejahtera di bumi, di antara orang-orang yang berkenan kepada-Nya!”


Mengapa mereka bernyanyi demikian? Mengapa ada damai sejahtera di bumi, di antara orang-orang yang berkenan kepada Allah? Karena, salah satu malaikat itu berkata, “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud!” Seketika pikiran mereka melayang dan sampai pada nubuat nabi Yesaya, “Nama-Nya akan disebutkan... Raja Damai.”

Ketika Raja Damai itu datang ke dunia, orang-orang yang menanti-nantikan Dia menemukan penggenapan pengharapan mereka. Bila orang berkata pada kita, “Damai bagi kamu,” kita tidak merasakan apa-apa. Tapi ketika Dia, yang adalah Raja Damai, berkata, “Damai sejahtera bagi kamu,” damai itu diperintahkan untuk datang kepada kita. Damai itu ada di dalam kita, ketika Yesus ada bersama kita. Dan karena nama-Nya adalah Imanuel, “Allah beserta kita”, maka damai itu juga selalu beserta kita.

Yohanes melanjutkan ceritanya. Setelah memberi mereka salam damai, Yesus menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu menyadari bahwa yang ada di tengah mereka benar-benar Yesus, bukan Guru yang sudah mati, tetapi Tuhan yang telah bangkit! Dan firman Tuhan berkata, “Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.”

Inilah yang kita alami ketika kita bertemu Tuhan dan menyadari bahwa Dia selalu menyertai kita. Saya ingat sebuah cerita tentang lukisan bertema “damai.” Lukisan itu menggambarkan laut yang gelap dan bergelora diterpa badai, dengan banyak batu karang yang tajam. Tetapi di atas salah satu batu karang itu ada seekor burung yang bertengger dengan tenang memandangi badai yang menakutkan itu. Itulah damai. Daud menyatakannya dengan puitis: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.” Sebuah hymne berkata,

Tuhanlah yang memimpinku

Tanganku dipegang teguh
Hatiku berserah penuh
Tanganku dipegang teguh
“Jika Allah di pihak kita,” ujar rasul Paulus dengan yakin, “Siapa yang akan melawan kita?” Inilah damai dan pengharapan kita, bahwa Dia tidak pernah meninggalkan kita.

Namun damai dan sukacita ini diberikan oleh Tuhan bukan untuk kita nikmati sendiri saja. Yesus berkata lagi kepada murid-murid-Nya, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”

Ke mana kita diutus? Tidak lain kepada dunia yang gelap dan kacau ini. Sebagaimana Yesus datang menjadi terang dunia, kita pun diutus menjadi terang di dunia yang gelap, membawa damai sejahtera di dunia yang gelisah. Bila damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati kita, kita dapat melayani Tuhan dan orang lain dengan keyakinan yang mantap, iman yang teguh, dan semangat yang tidak padam. Ini bukan berarti kita harus membawa pesan yang manis-manis saja; tetapi ini berarti kita tidak takut dengan resiko apapun yang kita hadapi sebagai orang-orang yang mewakili Kristus di dunia. Ini berarti kita tidak takut ditolak dunia ketika berbicara tentang dosa, dan tidak mundur sekalipun menghadapi kesulitan.
But it gets better: Dia tidak membiarkan kita berjuang sendiri! Yohanes melanjutkan:
Dan sesudah berkata demikian (yaitu, mengutus mereka), Yesus mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni; dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”
Ketika seorang raja menyuruh ajudannya mengerjakan tugas negara, ia menyertakan kuasanya bagi ajudan tersebut; entah dalam bentuk kawalan tentara, surat tugas, atau lainnya. Demikian pula Allah, Roh Kudus menyertai kita dan memperlengkapi kita dengan kuasa. Kuasa ini begitu luar biasa, karena ini bukan hanya kuasa untuk hidup di dunia, melainkan kuasa yang mengikat orang sampai kekekalan! Yesus berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu...”―perhatikan, Dia berani mengutus kita karena Dia memperlengkapi kita dengan kuasa-Nya.

Inilah tujuan Tuhan memberikan damai sejahtera dalam hati kita: supaya dengan hati yang teguh, yang percaya penuh bahwa Dia menyertai kita, kita melayani Tuhan dengan segenap hati. Peace is not merely some feel-good sentiment, peace is a fortress, and it is only in Jesus Christ we have peace. Seperti yang dikatakan nabi Yesaya,

“Yang hatinya teguh, Kau jagai dengan damai sejahtera,

sebab kepada-Mulah ia percaya.”

—Yesaya 26:3